Kamis, 11 Oktober 2018

Kesehatan Raga Harus Diimbangi Kesehatan Jiwa


Sekarang tanggal 11 Oktober, berarti baru sehari berlaku hari peringatan Kesehatan Jiwa Sedunia. Baru tahu? Iya, sama, ada harinya ternyata. Berarti segitu pentingnya masalah kesehatan jiwa.


Kalau bicara kesehatan mental, ini bisa menyerang siapa saja, enggak pandang usia dan latar belakang. Karena di zaman teknologi canggih gini rentan banget untuk urusan kesehatan mental. Kalau dibilang orang yang memiliki gangguan mental itu adalah orang yang hidupnya susah, orang yang salah gaul, dan hal negatif lainnya, maka semua itu enggak tepat. Karena masalah kesehatan mental bisa datang kepada siapa saja.

(dokpri)

Seorang anak misalnya, kehidupan di dalam rumah cukup bagus, tidak pernah melihat orang tuanya berantem, atau dia selalu akur dengan saudara kandungnya. Itu enggak lantas bisa dikatakan mentalnya sehat, kita rnggak tahu kalau di sekolah dia mengalami bullying, atau melihat peristiwa-peristiwa negatif dari penggunaan internet yang memengaruhi cara dia berpikir.

Orang-orang yang rentan dengan masalah kesehatan jiwa itu biasanya yang punya masalah fisik, mental, kualitas hidup, dan beberapa hal lain yang menimbulkan risiko gangguan jiwa. Untuk gangguan jiwa sendiri ini semacam perubahan perilaku yang akhirnya jadi hambatan bagi dirinya dalam menjalani kehidupan sehari-hari sebagai manusia. Gangguannya ini kumpulan dari pikiran, perilaku, dan perasaan.

Data dari tahun 2013, prevalensi gangguan mental emosional tertinggi di Sulawesi Tengah sebesar 11,6% dan paling rendah adalah 1,2% di Lampung. Sebanyak 6% prevalensi gangguan mental adalah usia di atas 15 tahun. Dan, fakta WHO tahun 2018 adalah, bunuh diri merupakan penyebab nomor dua kematian pada usia 15-29 tahun. 

Nah, kenapa di usia itu? Karena anak muda atau remaja adalah masa di mana melewati banyak sekali peristiwa atau kejadian, baik dari segi pencapaian prestasi atau bahkan sampai penindasan. Kalau bicara gangguan mental hingga bunuh diri, berarti sudah masuk ranah peristiwa negatif.

Jika usia tersebut adalah juga penyandang disabilitas, semakin besar peluang dia mengalami depresi, iya, karena keterbatasannya. Sebanyak 300 juta orang mengalami depresi, itu angka WHO tahun 2018. Sedangkan di sisi lain ada 60 juta orang menderita gangguan bipolar. Bipolar itu gangguan kejiwaan seseorang seperti memiliki dua kutub berbeda, ketika senang atau sedih dia akan sangat berlebihan. Itu sama sekali enggak keren, si penderita merasa sangat tersiksa dengan kondisinya itu. Belum lagi gangguan jiwa seperti skizofrenia dan jenis psikosis lainnya yang diderita sekitar 32 juta orang di dunia. Demensia, kemerosotannya semua kegiatan pikiran karena kerusakan atau penyakit pada otak ini diderita sekitar 50 juta orang di dunia. 

Berdasarkan UU No. 18 tahun 2014 Kesehatan Jiwa adalah kondisi di mana seorang individu dapat berkembang secara fisik, menral, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.

Ki-ka: dr. Eka Viora, Sp.KJ - Ketua PDSKJI Pusat, Dr. dr. Fidiansjah , Sp.KJ., MPH. - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan RI, dan Indra Rizon, SKM., M.Kes. - Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI. (dokpri)

Kita tahu banget, nih, kalau sekarang mayoritas orang menghabiskan lebih banyak waktunya untuk berselancar di dunia maya apapun bentuknya. Kejahatan cyber itu lebih bahaya sebenarnya, karena dia enggak nyerang fisik melainkan langsung menyerang psikologi seseorang. Kasus seperti ini yang membuat para orang tua seharusnya bisa mendampingi dan menjawab kebutuhan remaja, jangan sampai pa yang didapat dari internet dipelajarinya sendiri dan ditelan mentah-mentah.

Bagi remaja yang berhasil melewati dan menjawab tantangan zaman yang seperti itu, dia akan baik-baik saja dalam hidupnya, tapi gimana kalau enggak kuat? Ya, itu tadi, berakhir pada masalah kesehatan jiwa, yang kalau enggak dideteksi dn ditangani sedini mungkin, efek jangka panjangnya adalah gangguan jiwa. Kita lihat seseorang baik-baik saja ternyata dia LGBT, terlihat tidak ada masalah tiba-tiba ditemukan sudah tidak bernyawa karena memilih bunuh diri, atau kita lihat ada remaja yang pendiam ternyata dia kecanduan pornografi yang tingkat kerusakan pada otak sama beratnya dengan kecanduan napza.

Timbulnya gangguan kejiwaan ini ada dua faktor, pertama itu faktor individu, dimana seseorang mengalami ketidakmampuan mengelola pikiran, emosi, perilaku, dan interaksi dengan orang lain. Faktor kedua adalah sosial, ekonomi, budaya, politik, dan lingkungan, artinya terjadi kurangnya dukungan komunitas,  kondisi kerja yang tidak kondusif, juga standar hidup.

Kesehatan jiwa enggak bisa disepelekan, ini masalah masa depan suatu bangsa, ketika penduduknya memiliki jiwa yang sehat, maka kemajuan suatu bangsa bisa terus dipertahankan, tapi kalau semakin banyak yang menderita gangguan kejiwaan, artinya masa depan bangsa juga terancam.

Jadi, gimana?

Jiwa kamu sehat atau agak goyang? Coba konsultasi enggak ada salahnya, lho, jangan mendiagnosa sendiri, itu malah bahaya.

1 komentar:

  1. Gangguan kejiwaan itu memang nyata adanya. Sayangnya byk di antara kita yg malah menyudutkan atau mengabaikan hingga telanjur parah.

    BalasHapus

Hola, siapa pun anda, terima kasih sudah mampir. Semoga anda membacanya dengan seksama dan dalam tempo secukupnya.