Jumat, 22 Oktober 2021

Isi Tasku Menyelamatkan Bumi

 

Widya Candra Dewi

“Tas lu ada apanya, dah, berisik banget.” Temanku bingung, kenapa ada bunyi ramai dari dalam tasku. Ceritanya Aku lagi jalan kaki sama teman, dan kebetulan sekeliling agak sepi, jadi kedengaran, tuh, isi di dalam tas.

“Biasa lah, bawaan gue kan gini ke mana-mana, jarang bareng gue, sih, lu!” Aku menjawabnya sambil nyengir tapi enggak kelihatan, ya, kan, pakai masker. Hahaha.

“Coba mana lihat isinya, bawa apaan, sih!” pintanya saat kami sampai di dalam ruangan yang menjadi tujuan.

Sambil duduk Aku buka tas punggung warna orange yang cukup sering kupakai untuk bepergian. Langsung Aku keluarkan botol tumblr warna merah, payung, dompet, hand sanitizer, tisu basah, satu set sedotan, dan terakhir alat makan, iya, sendok, garpu, dan sumpit dalam satu kotak. Sepertinya yang terakhir itu yang bikin berisik.

“Buseeettt, ngapain lu bawa-bawa ginian? Bawa sedotan, sendok satu set. Kayak anak TK bawa bekal, terus mana bekalnya?” tanyanya lagi sambil tertawa kecil.


Mitigasi iklim
(dokpri)


Langsung, lah, ya, Aku ceramah panjang kali lebar kali tinggi. “Gini, ya, Cuy. Bawa alat makan ini bukan masalah berapa umur lu, dan apa status lu. Ini adalah masalah kita semua, masalah kesehatan Bumi. Gue bawa semua ini, berusaha buat kurangin sampah, kita manusia, kan makan mulu kerjanya, kalo setiap beli, alat makannya itu plastik pasti jadi sampah, yang dari kayu aja juga bakal langsung jadi sampah biasanya. Sehari ada 1.000 orang yang pakai alat makan sekali pakai, berarti ada 1.000 sampah dalam satu jadwal makan. Nah, kalau makan sehari tiga kali, berarti udah 3.000 sampah dalam sehari. Ini juga kalau pakainya satu doang, misal sendok doang. Coba kalau pakai garpu juga, atau pakai sendok juga pakai sumpit. Dah, lah, bumi ketutup sampah. Udah mana ngolahnya susah, hancurnya juga susah,” jelasku.

“Kan, ada tempat pembuangan sampah, enggak dibuang sembarangan, bisa dibakar juga, atau daur ulang, noh jadi kerajinan tangan,” kilahnya.

“Nih, yang gini, nih, yang bikin bumi sesak napas. Coba, deh lu ke tempat pembuangan sampah akhir, biar tahu gimana polusinya di sana, lu mungkin sekarang buang sampah di tempatnya, tapi kan lu enggak tahu itu sampah berakhir di manaaa.” Aku mulai gemas. “Terus kalau mau daur ulang, sedikit, Cuy yang mau bikin kerajinan dari semua sampah itu. Mungkin sekarang lu tertarik bikin sesuatu, tapi lu kan bosenan, entar kerajinan daur ulang belum jadi apa-apa udah lu tinggalin. Orang aja lu PHP-in, apalagi benda mati.”

“Mulai dah, lu, ah. Seneng banget lu ngeledekin gue. Gue tuh, korban. BTW, udah pernah lewat TPA, sih, baunya kayak ketek Naga,” ucapnya.

“Sok-sokan ketek Naga, cium pipi pacar aja lu gak pernah!” ledekku dan dia manyun. Hahaha.

“Kamvrede, lu, yang ada dia ketagihan cium-cium pipi gue! Ribet tapi bawa-bawa gituan, menuhin tas aja.” Dia ngeles lagi.

“Lebih ribet mikirin dampak dari alasan-alasan kayak lu gitu. Tahu enggak lu, itu alat makan ada pabriknya, pabrik plastik, lah, udah pasti. Kepikiran limbahnya, nggak? Kepikiran asapnya nggak? Dia nyumbang emisi, naik ke langit, dah lah, nih, urusannya langsung ke pemanasan global.” Aku jelaskan sedikit.

“Eh, emang iya? Kok gue nggak kepikiran, dah, selama ini gue cuma mikirnya, tuh, dari asap kendaraan bermotor yang pakai bahan bakar minyak.” Dia mulai menunjukkan ketertarikan pembicaraan. Hahaha.

“Ya, bener, itu salah satunya juga, makanya lu juga jangan manja males jalan kaki, males naik angkutan umum, maunya bawa kendaraan sendiri. Malah ribet tahu, cari tempat parkirnya, lu jadi kurang gerak juga, ditambah jadi penyumbang emisi. Enggak kasihan sama diri sendiri dan bumi apa lu?!” Ocehku dan dibalas cengengesan garingnya.

”Lu jangan marah ke gue dong, dari masalah tas lu bunyi berisik, jadi ngapa ujungnya ngomelin gue!” protesnya.

“Ya, gue nggak ngomelin lu, gue ingetin aja, nah kan analoginya andai saja ada 1000 orang yang mikir kayak lu, sedangkan di dunia ini ada milyaran orang. Pemanasan global, nih, jadi tanggung jawab kita semua. Pemanasan global enggak bisa dicegah, kita hanya bisa mencegah efek perubahan iklimnya. Ada dua cara, mencegah karbon dioksida lepas ke atmosfer, atau mengurangi produksi gas rumah kaca,” terangku sambil sesekali menyeruput air jeruk di dalam tumblr. “#TimeforActionIndonesia dimulai dari diri kita sendiri, Cuy,” tambahku.

“Gue juga sempat baca, akibat pemanasan global itu serem banget, gletser hilang, pegunungan bersalju tebal, saljunya jadi tipis gitu. Banyak hewan yang punah jadinya, pulau jadi bisa tenggelam, dong, ya. Gue kan, suka banget maen ke pulau-pulau gitu. Haduuuhhh.” Kepalanya yang enggak kenapa-kenapa itu diusap-usap.

“Gue bersumpah, sebagai #MudaMudiBumi. #UntukmuBumiku, Gue nggak akan pernah capek ngingetin hal kayak gini ke teman-teman gue!” ucapku tegas.

“Gue juga, ah, sebagai anak muda penerus bangsa, bakal dukung usaha lu,” susulnya.

“Yeee, si dodol, dukung doang bukannya sadar!” ucapku seraya menoyor pelan kepalanya.

“BTW, Cuy, kebiasaan lu malas mandi itu dilestarikan aja,” ucapku lagi.

“Hah?! Kenapa emangnya?” tanyanya heran.

“Soalnya dampak dari perubahan iklim itu, kita jadi krisis air bersih. Tapi, ya, risikonya lu paling bau Naga. Hahaha…,” ucapku sambil bergegas jalan ke toilet.

“WICHAN SIALAAANNN, GUE KUTUK NIKAH SAMA BIAS LU NIIIHHH!!!” teriaknya terdengar sampai 30 meter.

"AAMIIINNN!!!" balasku enggak kalah kencang. Hahaha...

 



Sumber:

https://ugrg.ft.ugm.ac.id/perspektif/pentingnya-mitigasi-dan-adaptasi-terhadap-perubahan-iklim/

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Mitigasi_perubahan_iklim

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gas_rumah_kaca

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Energi_terbarukan

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Efek_rumah_kaca

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global

 

2 komentar:

Hola, siapa pun anda, terima kasih sudah mampir. Semoga anda membacanya dengan seksama dan dalam tempo secukupnya. Sila tinggalkan komentar