Rabu, 14 Juli 2021

Mencapai Kekebalan Kelompok dengan Vaksin dan Melawan Hoaks


Bersyukurlah kamu yang di pandemi begini berada pada lingkaran yang bagus. Dalam artian, sadar akan bahaya jika abai, sadar untuk saling menjaga, dan mendukung program pemerintah mengatasi pandemi. Tetap semangat jangan menyerah buat kamu yang merasa sedang berjuang sendirian. Kamu tidak akan pernah sendirian, ada banyak di luar sana yang sedang berjuang dengan caranya masing-masing.

Pusing banget rasanya lihat info hoaks pandemi dan hoaks vaksin seliweran sudah seperti jalan raya kalau enggak pandemi. Jika bisa diam saja, aku memilih untuk mengabaikannya, sayangnya enggak bisa didiamkan, makin menjadi malah nanti. Bahkan, sudah banyak pernyataan dokter pun, bukan berarti hoaks akan berhenti, padahal sudah jelas para ahli yang mengutarakan. Hoaks tetap lancar banget ngalirnya, kayak amal jariyah.

Aku habis ikutan Webinar Kominfo yang kerja sama dengan UPH, temanya “NO HOAX: VAKSIN AMAN, HATI NYAMAN”. Nah, di sini ada sambutan dari Prof. Dr. Widodo Muktiyo, beliau kupas sedikit tentang hoaks.


TUJUAN HOAKS: 

1. Opini Negatif, informasi palsu atau bohong yang bereda akan menimbulkan pemikiran negative dari setiap orang yang menerimanya, kemudian timbul rasa tidak percaya sehingga bisa memicu konflik karena terjadi perbedaan kepercayaan akan suatu hal.

2. Menyulut Kebencian, hoaks beredar sangat cepat, berawal dari satu orang pembuat, dalam hitungan menit bisa sampai pada ribuan orang lainnya dengan kekuatan dari teknologi, media sosial terutama.

3. Persepsi Negatif, setelah menerima informasi hoaks tersebut pasti banyak yang langsung memiliki sudut pandang negatif, dan sebenarnya ini lah tujuan dari si pembuat informasi hoaks.

4. Provokasi dan Agitasi, tidak sedikit hoaks yang akhirnya membangkitkan amarah, berburuk sangka, dan membuat si penerima ikut menyebarkan ke kelompok lainnya.

Pak Widodo mengatakan bahwa sekarang ini adalah ERA POST TRUTH dan ECHO CHAMBER. Hmmm, apa itu???

Maksudnya adalah, era di mana informasi yang tersebar tidak lagi mengedepankan kebenaran, fakta, dan bukti, tapi lebih ke cerita yang disajikan bisa diterima berdasarkan kesamaan sudut pandang, pikiran, dan keyakinan.

Nah, ini memang benar banget, yang dapat banyak dukungan adalah yang satu aliran, yang dianggap berada pada sisi yang sama, kalau berbeda sisi walau informasinya akurat, tajam, dan terpercaya, tetap kalah dengan yang lebih banyak dipercaya.

Dari bentuknya sendiri, berita hoaks yang paling banyak itu berupa tulisan, pasti sering, kan dapat broadcast-broadcast di grup-grup Whatsapp? Hoaks yang bentuknya tulisan ini menguasai sebesar 62.10% dari seluruh bentuk. Bentuk hoaks kedua adalah berupa gambar, atau foto-foto.Sebanyak 37.50%, biasanya foto di lokasi berbeda digunakan untuk hoaks suatu peristiwa di tempat lain. Paling kecil adalah dalam bentuk video 0.40%. mungkin karena lebih sulit buatnya, ya, disbanding tulisan yang ya sudah tinggal diketik, orang yang membaca akan mudah percaya.

Orang Indonesia dikatakan darurat membaca, tapi kena pada doyan baca hoaks, ya? Kenapa gampang percaya? Mendingan abaikan saja, toh bukannya malas membaca? Atau kah ego? Ingin menjadi pahlawan bagi orang lain, padahal dia enggak tahu kalau itu sesat, enggak ada berbau kepahlawanan sama sekali.

Untuk saluran penyebaran hoaks itu sendiri ada banyak, mulai dari media elektronik, media cetak, situs internet, sampai paling banyak adalah media sosial dan aplikasi obrolan, seperti WhatsApp, Telegram, dan lain sejenisnya. Memang benar-benar ya jempol dan kawanannya, sekali klik, langsung satu jaringan tahu dalam hitungan detik. Banyak yang enggak sadar pun kalau itu hoaks, karena bentuk hoaks nih sering kali sangat meyakinkan.

Saking banyaknya hoaks, ada yang sampai setiap hari menerima informasi hoaks, ya Allah, sedih banget. Ini kenapa, ya, kok bisa gitu setiap hari. Apakah dari grup yang sama? Apakah tergabung dalam sangat banyak grup dan setiap hari selalu ada informasi hoaks. Tapi memang di media sosial juga banyak banget sih, niat cari hiburan pun nanti akan tetap nongol satu dua buah berita hoaks.

Hoaks yang beredar itu bisa kita hentikan, dimulai dari kita yang enggak melanjutkan penyebarannya. Stop! cari tahu dahulu lebih lanjut info terkait, cek Google, deh paling gampang, karena setiap saat ilmu pengetahuan terus berkembang, ada saja info terbaru yang kita belu tahu. Kalau malas untuk melakukan literasi digital, ya sudah, gampang banget kena hoaks. Kita bisa cek hoaks di website www.cekhoaks.id

Sejarah pandemi di dunia, nih, bukan termasuk hoaks. Corona ini termasuk pandemi influenza, di awali tahun 1918 namanya Spanish Flu A(H1N1), lanjut ada lagi pandemi di tahun 1957 namanya Asian Flu A(H2N2), tahun 1968 terjadi lagi Hongkong Flu A(H3N2), terus tahun 2009 pHiN1 yang kita sebut flu babi, dan sekarang si Corona ini atau Covid-19. Menurut dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid., dunia harus selalu siap dengan serangan pandemi, kita enggak tahu kapan aka nada pandemi lagi. Tapi memang benar, virus akan selalu bermutasi, manusia yang harus jadi semakin kuat.

Sekarang, kan, kalau dilihat datanya itu lonjakan kasus tinggi banget, ya, iya karena sehari itu dilakukan tes hingga 400 ribuan per hari, tes ini salah satu cara dalam strategi mengatasi lonjakan kasus, jadi lebih cepat ketahuan siapa yang positif, jadinya cepat ditangani dan enggak nularin ke semakin banyak orang.

Virus yang sekarang gampang banget dia nularinnya, dan kita nih sering banget mengabaikan titik lengah.


Titik Lengah Penularan Virus Corona:

1. Makan Bersama
2. Acara Pernikahan
3. Acara Pemakaman
4. Kunjungan Rumah atau Bertamu
5. Rapat Tatap Muka
6. Transportasi Umum
7. Olahraga Bersama
8. Foto Bersama dan Lepas Masker
9. Mengunjungi Mall dan Pusat Perbelanjaan

Target dari program vaksinasi oleh pemerintah adalah bisa mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok, dan harus minimal 70% penduduk mendapatkan vaksinasi, angka tersebut setelah dikurangi penduduk yang tidak bisa menerima vaksin, ya. Nah, berarti, kan, semua lapisan masyarakat harus mendukung demi tercapainya tujuan tersebut. Pemerintah enggak mungkin tidak berusaha memberikan yang terbaik untuk rakyatnya, kan. Semua vaksin yang digunakan aman, teruji klinis juga, dan sekarang vaksin sudah menyasar dari usia 12 tahun.

Dari jumlah responden 5.397, didapat hasil keyakinan tentang vaksin dapat mencegah penularan Covid-19 sebagai berikut.

(Sumber tertera pada gambar)



Keyakinan vaksinasi adalah cara yang aman dan efektif.

(Sumber tertera pada gambar)



Keyakinan vaksinasi dapat mencegah penularan Covid-19.

(Sumber tertera pada gambar)



Peran media dalam penyebaran informasi.

(Sumber tertera pada gambar)



Untuk vaksin anak 12-17 tahun, kan baru banget dimulai, mereka ini pakai vaksin Sinovac dan Pfizer. Aku setuju banget ini untuk anak-anak vaksin, karena mereka kan yang sudah pasti akan menjadi masa depan bangsa, ya. Dan, masih banyak banget seusia mereka yang masih main di sekitaran tempat tinggal tapi tanpa menggunakan masker, padahal virus corona ini enggak peduli usia dan wilayah, semua orang bisa kena, siapa saja bisa jadi sasaran si virus.

Vaksin untuk anak-anak ini cukup bawa Kartu Keluarga atau dokumen yang mencantumkan Nomor Induk Kependudukan. Nanti prosesnya juga sama kayak vaksin untuk dewasa, pendaftaran dahulu kemudian dilakukan skrining riwayat penyakit, baru diberikan penyuntikan vaksin, jadi, kalau ada riwayat penyakit atau kendala lain yang menghalangi penerimaan vaksin, ya enggak akan diberikan vaksin.

Jadi, ya, kalau herd immunity sudah terbentuk, pandemi akan terkendali, ekonomi pasti bangkit. Siapa, sih, yang enggak merindukan masa-masa seperti sebelum pandemi? Sekarang dimulai dari kita lawan hoaks tentang pandemi, tentang vaksin, tentang konspirasi, dan lain sejenisnya.

Satu pesan dari Dr. Benedictus A. Simangunsong, S.IP., M.Si. “JADILAH WARGA DIGITAL YANG BAIK”. Bagaimana caranya? Ya, yang paling penting jangan mau dikuasai oleh media, media harus digunakan dengan bijak dalam mencari informasi, jangan asal percaya saja, karena banyak juga media abal-abal, yang judul berita dan isi enggak sinkron.

Hoaks Seputar Vaksin:
1. Penerima vaksin akan meninggal dua tahun setelah menerima vaksin.
2. Vaksin Covid-19 mengandung chip pelacak.
3. Efek samping memperbesar kelamin pria.
4. Terdapat teks Only for Clinical Trial dalam kemasan vaksin Sinovac.
5. Mengandung vero cell dan bahan yang tidak halal.

WHO sendiri mengeluarkan pernyataan bahwa permasalahan yang paling besar itu infodemik, iya penyebaran informasi yang berlebihan dan banyak menimbulkan persepsi yang salah atau tidak lengkap. Ini jadi kembali lagi ke literasi masyarakat. Indonesia sendiri ada di peringkat 62 dari 70 negara, sedih beud. Kalau kamu merasa suka baca, ya beruntung lah berarti kamu masuk ke dalam 0,001% orang Indonesia yang gemar membaca, ini hasil survei UNESCO.

Pada kasus ini, bukan tingkat pendidikan yang menentukan apakah seseorang literasinya bagus atau tidak, karena tingkat pendidikan dan tingkat literasi adalah dua hal yang tidak berada pada satu garis lurus. Literasi itu dilihat dari caranya dalam melihat berbagai macam dimensi dari konten yang diterima. Jadilah masyarakat global yang punya identitas, kalau kata Pak Widodo Muktiyo. Semua lapisan masyarakat harus sama-sama kasih kontribusi positif untuk negara.


AYO BERPERAN DALAM MEMBENTUK KEKEBALAN KELOMPOK!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hola, siapa pun anda, terima kasih sudah mampir. Semoga anda membacanya dengan seksama dan dalam tempo secukupnya. Sila tinggalkan komentar