Kamis, 27 Februari 2020

Menyambut Generasi Emas dan Bonus Demografi di Indonesia

(Difotoin Imawan)

Berkali-kali aku ikut suatu workshop atau seminar yang bahas tentang manusia, dan berkali itu pula dikeluarkan data bahwa Indonesia punya bonus demografi tahun 2045. Iya, di tahun itu kita punya penduduk pada usia produktif yang banyak banget, lebih banyak dari penduduk usia anak-anak dan lansia. Usia produktif itu 18 sampai 65 tahun, dan di tahun 2045 kita akan punya banyak sekali generasi di usia tersebut.

Untuk itu kita harus mengusahakan mereka yang nantinya ada di usia produktif, punya kesehatan jiwa dan raga yang baik. Berawal dari asupan makanan, Ges. Kita tinggal di negara yang punya ribuan jenis masakan, 50% enak banget dan 50% aku blum pernah coba, yah ini perkiraan sendiri, sih. hahaha. Nah, dari berbagai jenis makanan itu, juga ada makanan cepat saji, atau makanan buatan pabrik. Semua boleh dimakan enggak? Ya, boleh, boleh banget, tapi satu hal. Makanlah makanan yang baik untuk tubuhmu, karena makanan yang halal sekalipun belum tentu baik untuk tubuhmu. Contohnya, kamu punya diabetes, tapi makanan manis bisa membahayakanmu jika tidak dikontrol. Kalau dilihat, makanan manis enggak melulu haram, kan? Jadi, gitu lah, makanlah makanan yang baik untuk tubuhmu.

Tadi aku bilang ada makanan buatan pabrik, kan, ya? Ini dia, Ges, yang juga harus mendapat perhatian penting dari kita sebagai konsumen. Aturannya adalah, produsen harus banget buat produk makanan yang kandungannya baik, bukan yang penting laku. Tapi lebih penting lagi, yaitu kita sebagai konsumen juga harus cerdas, tahu mana yang baik dan enggak untuk dikonsumsi pun bagaimana cara mengonsumsinya. Jangan asal enak dan suka, tapi cek ada kandungan apa saja di makanan itu.

Pola hidup sehat, ini pondasinya, Ges. Bukan kaya atau miskin, tapi masalah mau atau enggaknya melakukan pola hidup sehat. Hidup sehat bukan berarti makan makanan mahal, hidup sehat itu adalah keseimbangan. Makan dengan porsi standar, komposisinya tepat, enggak perlu banyak, yang penting lengkap. Olahraga teratur, enggak perlu bayar fitness mahal, minimal sering jalan kaki, banyak aktivitas fisik. Itu yang dasar banget, enggak butuh biaya mahal, kok, yang penting niatnya dulu.

Jaga kebersihan juga enggak kalah penting, Ges. Cuci tangan, cuci kaki, etika saat bersin, meludah, jangan buang air sembarangan, selalu siram sampai bersih setelah buang air, cuci tangan sebelum dan sesudah makan, piringnya juga dicuci, jangan tunggu sampai jamuran. Oke sip!


Misi Presiden 2019-2024 ada 9, 3 diantaranya adalah:
  • Peningkatan kualitas manusia Indonesia.
  • Pembangunan yang merata dan berkeadilan.
  • Kemajuan budaya  yang mencerminkan kepribadian bangsa. 

Ketiganya menjadi tugas Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Lalu, apa yang mereka lakukan? Yang pasti enggak bisa sendirian, memerlukan implementasi intervensi lintas sektor secara terintegrasi di tingkat pusat dan daerah . Salah satunya itu 'Aisyiyah yang punya program dalam pembangunan kualitas manusia, yaitu GRASS (Gerakan 'Aisyiyah Sehat).

GRASS bertujuan meningkatkan pemahaman, kesadaran, kemauan, dan kemampuan setiap individu dan kelompok masyarakat untuk hidup sehat dalam bingkai-bingkai Islam untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

(Ki-ka): Kang Maman - Moderator, Hj. Intan Fitriana Fauzi, S.H., LL.M. - Anggota DPR RI Komisi IX, Dr. Kirana Pritasari MQIH - DirjenKesMas Kemenkes RI, Arif Hidayat, S.E., M.M. - Ketua Harian YAICI, dan Dra. Chairunnisa, M.Kes. - Ketua Majelis Kesehatan PP 'Aisyiyah. (Dok. Imawan)

Sedangkan upaya yang sudah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia berkualitas dan berdaya saing adalah:
  1. Meningkatkan kualitas anak, perempuan, dan pemuda.
  2. Mengentaskan kemiskinan.
  3. Meningkatkan produktivitas dan daya saing.
  4. Mengendalikan pertumbuhan penduduk dan memperkuat tata kelola kependudukan.
  5. Memperkuat pelaksanaan perlindungan sosial.
  6. Meningkatkan pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta.
  7. Meningkatkan pemerataan layanan pendidikan berkualitas. 


Stunting salah satu permasalahan yang harus dihadapi dan dilakukan pencegahannya sesegera mungkin. Akar masalahnya adalah kurangnya pendidikan, ada 26 juta penduduk miskin. Lalu penyebab tidak langsung terjadinya stunting salah satunya belum ada akses sanitasi yang layak, pertumbuhan balita enggak dipantau secara rutin, dan penduduk rawan pangan, iya masih banyak yang kelaparan. Nah, penyebab langsung dari stunting adalah anak usia 6 – 23 bulan asupan makanannya enggak beragam, dan belum mendapat imunisasi lengkap bisa jadi salah satu faktornya.

Masalah sanitasi ini krusial banget, bahkan di Jakarta pun masih ada pemukiman yang sanitasinya masih belum baik. Masalah sanitasi bisa menjadi penyebab stunting. Iya, pertumbuhan yang terhambat. Efeknya apa? Ya ke sumber daya manusia yang kita punya jadi terancam kualitasnya.

Kemampuan bersaing SDM yang kita punya jadi berkurang, kita sulit bersaing karena masalah stunting, berawal dari pola hidup yang belum baik dan benar, masih asal saja yang penting enggak sakit, dipikir semuanya baik-baik saja, padahal ada ancaman yang tersembunyi dan banyak yang tidak menyadari.

Dampak dari stunting itu jangka panjang dan terkait dengan tiga pilar, yaitu kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Dampak jangka panjang ini yang harus kita cegah, karena sangat membahayakan. Dalam hal pembangunan kesehatan, bukan cuma urusan pemerintah, tapi semua pihak berperan penting, termasuk diri kita sendiri. Kita harus peduli pada diri sendiri, cintai dirimu, jangan menunggu orang lain mencintaimu.

Kementerian Kesehatan RI sudah gencarkan GERMAS dengan melakukan CERDIK. Ayolah, sayangi dirimuuu, minum air setiap hariii. Ngomongin minum, selain air putih, kamu juga boleh minum yang lain, asal enggak minum SKM, iya, susu kental manis yang nyatanya bukan susu. Masih banyak yang menyalahgunakan penggunaan SKM karena ketidaktahuannya.

Kamu tahu? 97% masyarakat Kendari menganggap SKM itu susu, jadi mayoritas anak-anak di sana diberi minum SKM. Oh, Tuhaaannn, mereka minum air gula butek, serius air gula karena 60% kandungannya itu adalah gula, kalau sering menjadikan SKM itu minuman, tahu kan apa saja yang akan mengancam? Ya, obesitas! Bayangkan kalau balita diberikan kental manis setiap hari sebagai asupan susu. Hmmm. Tolong, ya, balita obesitas itu bahaya, jangan dibilang lucu!

SKM sekarang harus kita sebut Kental Manis, kental manis ini cukup digunakan sebagai topping pada makanan, seperti di es campur, roti tawar, roti maryam, pancake, dan makanan sejenis yang memang cocok jika ditambahkan kental manis. Bukan untuk diseduh dengan air panas terus diminum rutin sehari dua kali.

Kalau dari masa anak-anak saja sudah tidak diperhatikan dengan baik asupannya, lalu bagaimana tumbuh kembangnya? Apa kabar mereka di usia produktif nanti? Ayolah bantu pemerintah mewujudkan generasi emas saat kita punya bonus demografi nanti. Hal yang enggak banget kalau dibilang sepele ini harus jadi pengetahuan dasar bagi kita semua, iya kita semua yang belum menikah, sampai yang sudah punya cucu, supaya enggak ada kesalahan lagi dalam pemberian asupan nutrisi.

Usia produkti tahun 2045 akan mencapai 70% dari seluruh jumlah penduduk di Indonesia. Kalau mereka semua tumbuh menjadi generasi yang berkualitas, negara akan sangat bahagia dan terbantu, tapi bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya? Astaga, jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan.


Generasi emas 2045 harus:

  1. Kreatif
  2. Inovatif
  3. Produktif
  4. Berkarakter kuat
  5. Damai dalam berinteraksi
  6. Sehat dan menyehatkan
  7. Berperadaban unggul

Dok. Imawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hola, siapa pun anda, terima kasih sudah mampir. Semoga anda membacanya dengan seksama dan dalam tempo secukupnya. Sila tinggalkan komentar