Selasa, 19 November 2019

Hari Diabetes 2019: The Mother of Diseases

(Ki-ka): dr. Fatimah Eliana Taufik, Sp.PD,KEMD - Dokter Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi, Prof. dr. Jose RL Batubara, PhD, SpA(K) - Divisi Endokrinologi Anak, FKUI - RSCM, dan Dr. Cut Putri Arianie - Direktur P2PTM Kemenkes RI. (dokpri)

Diabetes masuk ke dalam penyakit tidak menular. Diabetes adalah mother of diseases. PTM lainnya yang banyak terjadi adalah jantung, hipertensi, stroke, kanker, dan penyakit katastropik lain. Pada tahun 1990-an, penyakit menular itu banyak, seperti TBC. Tapi ketika penyakit menular belum selesai ditangani, angka penyakit tidak menular ikut meningkat. PTM berada di posisi 3 teratas sebagai penyebab kematian tertinggi.
Stroke, jantung, dan diabetes menjadi penyakit penyebab kematian tertinggi di tahun 2017. Di luar sana, Indonesia mendapat julukan "Baby Smoker Countries". Hmmm, seram banget enggak, sih?! Sebutan itu bukan tanpa alasan, ada anak usia 2,5 tahun di Indonesia yang sudah merokok.

Saat ini, kemajuan teknologi yang sangat cepat pun menjadi salah satu faktor PTM. Kok, bisa???
Ya, bisa, lah!
Selain sisi positif, perkembangan teknologi juga punya sisi negatifnya. Salah satunya adalah kita jadi malas bergerak lebih banyak, mau makan tinggal pesan, mau bepergian tinggal order transportasi online. Saat ini PTM meningkat di usia 10-14 tahun, yang menyebabkan adalah transisi ekonomi, budaya, dan perilaku.

Usia itu padahal menjadi bonus demografi pada 10-15 tahun kemudian, tapi akan jadi masalah kalau sejak kecil sudah terpapar risiko penyakit tidak menular. Hanya ada 3 dari 10 orang Indonesia yang sadar bahwa dirinya terkena PTM, yang sering kali terjadi adalah orang obesitas tidak punya keluhan. Dia merasa sehat-sehat saja, padahal sudah menumpuk penyakitnya. Papua menjadi daerah dengan PTM terendah, yang tertinggi adalah Bali, dan DKI sendiri masih di urutan ke-4. Untuk itu, lembaga kesehatan sudah seharusnya ikut ambil bagian menyuarakan cara hidup sehat, bagaimana menghindari faktor risiko, melakukan pengobatan untuk yang sakit, dan lain sebagainya.

Dimulai dari pola makan, kurangin gula, boleh makan manis, tapi jangan berlebihan. Mentang-mentang suka manis, jadi makan apa-apa harus pakai gula berlebih. Misal sehari makan 3 kali, dan selalu makan nasi, nah, itu sudah gula semua. Nasi dan tepung-tepungan memang sudah layak untuk sangat dikurangi porsinya.

Dari data kesehatan Kemenkes RI, pengobatan untuk diabetes itu besar banget, setiap tahun meningkat malahan. Padahal, ya, kita bisa tidak mengeluarkan biaya besar itu, dengan cara mengubah gaya hidup yang belum sehat, ke gaya hidup sehat.

Pola makan ini harus banget terus dikampanyekan. Bukan sok sehat, masalahnya, usia produktif nih, banyak yang berisiko kena PTM.
Kenapa berisiko?
Coba deh, lihat diri kamu sendiri, hari ini sudah melangkah berapa kilo meter? Sudah olahraga belum hari ini? Atau lupa, kapan terkhir olahraga. Duh!

Kalau ditanya. Siapa yang bertanggung jawab atas kesehatan setiap orang?
Sudah jelas jawabannya, Ya, diri sendiri lah. Jangan menyalahkan orang lain. Kita yang harus jaga kesehatan diri sendiri. Selain diabetes, ada banyak PTM lain yang beberapa sudah aku sebutkan di awal. Untuk mewujudkan masyarakat sehat, tetap ada campur tangan pemerintah, seperti kebijakan kawasan bebas asap rokok. Harusnya, sudah menjadi kesadaran masyarakat secara umum, jangan menunggu ada yang menegur untuk mematikan rokok di tempat umum.

Kalau capek kasih tahu orang di sekeliling untuk hidup sehat, setidaknya kita sendiri deh, rajin aktivitas fisik. Jalan kaki gitu, atau kalau naik ojek online, jangan dari depan rumah, jalan dulu ke depan gang. Yah, agak jauh lah, pokoknya.

Tagline 10.000 langkah per hari itu bukan sekadar iklan produk biar laku, tapi ini memang yang disarankan Kementerian Kesehatan RI. Hmmm, aku paling tinggi sehari baru sekitar 7000 langkah, jauh banget ih buat ke 10.000. Huhuhu.

Eh, tiap bulan kontrol, Ges. Medical check-up gitu biar tahu nih, kita ada di posisi baik atau baik baik saja. He he he. Karena kita enggak tahu, kan. Mungkin lupa, sudah berapa kali makan dengan porsi berlebih. Hahaha.

Sedikit tentang lingkar perut. Harusnya, perempuan lingkar perutnya di bawah 80cm, kalau laki laki harus di bawah 90cm. Enggak harus orang dewasa ya yang diukur, anak-anak juga perlu, karena ada juga anak-anak yang kena diabetes melitus. Kasihan, banget, kan, masih kecil sudah menderita DM. 

Keslaahannya di mana kalau anak-anak yang kena?
Ya, ada yang DM karena pola makannya yang enggak sehat dan enggak teratur.
Kok, bisa?!
Ya, iyalah, kan anak itu pola makannya ngikutin orang dewasa yang bersamanya, dalam hal ini orang tua berperan penting.  Anak yang diabetes itu harus banget olahraga, yang enggak DM bukan berarti enggak boleh. Bedanya, yang DM harus lebih banyak porsinya.

Anak dengan diabetes melitus enggak boleh sampai kurnag insulin, karena akan berpengaruh banget ke tumbuh kembangnya, gangguan metabolik, pun memperlambat pubertas.
Kalau ditanya, "Anak-anak kapan didiagnosis diabetes?"
Eits, enggak pakak minimal, 'wong' bayi baru lahir saja bisa lho, kena diabetes. Jadi, satu cara termudah untuk #CegahDiabetes adalah mulai mengubah gaya hidup kita, lakukan gaya hidup sehat, dan tularkan kebaikan pada semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hola, siapa pun anda, terima kasih sudah mampir. Semoga anda membacanya dengan seksama dan dalam tempo secukupnya. Sila tinggalkan komentar