Minggu, 09 Desember 2018

ARV Menjadi Teman Hidup ODHA

Waktu masih zaman putih abu-abu, aku ikut komunitas di bawah asuhan YCAB (Yayasan Cinta Anak Bangsa), nama komunitasnya ini YADA Club singkatan dari Youth Againts Drug Abuse Club. Ya, penyalahgunaan obat-obatan. Komunitas ini setiap bulannya aktif buat workshop atau pelatihan yang isinya semua informasi terkait drugs, di sini lebih ke zat adiktif. 


Selalu seru dan menyenangkan, target komunitas adalah pelajar, mulai SD sampai Perguruan Tinggi. Karena di masa-masa itulah yang rawan banget jadi korban penyalahgunaan segala zat adiktif, pertama banget itu karena penasaran. Nah, YADA Club ini semacam mengampanyekan hal itu, membuat mereka bisa berkata TIDAK dan memilih kegiatan-kegiatan positif. 

Selain pemahaman tentang drug, juga tentang IMS (Infeksi Menular Seksual) yang bisa berakibat ke HIV - AIDS. HIV atau Human Immunodeficiency Virus ini menyerang kekebalan tubuh jadinya enggak bisa lagi melindungi tubuh dari berbagai penyakit. AIDS atau Acquired Immuno Deficiency Syndrome ini berbeda dengan HIV, karena AIDS itu ada setelah adanya HIV dan rentang waktunya pun lama, bisa 5 - 10 tahun sejak diketahui memiliki HIV.

Minggu lalu aku nonton Bohemian Rhapsody, ya, tepatnya beberapa hari sebelum turun layar. Kisah perjalanan band legendaris Queen, Freddie Mercury sang vokalis di akhir hayatnya bertarung dengan HIV, 24 November 1991 menjadi akhir perjuangannya hidup bersama virus HIV. Pada saat itu, HIV masih menakutkan, ibaratnya tinggal menunggu sampai kapan tubuh bisa bertahan.

Andai saat itu ARV sudah ditemukan, Freddie mungkin masih hidup dan keliling dunia bersama Queen. ARV atau Anti Retro Viral ini obat untuk orang yang hidup dengan HIV. Tunggu, bukan menyembuhkan, karena HIV tidak akan bisa sembuh, hanya saja dengan mengonsumsi ARV akan melemahkan virus untuk bisa berkembang biak lebih cepat. Kalau tidak minum ARV virus akan terus berproduksi menyerang tubuh hingga timbul AIDS. 

ARV ini harus diminum setiap hari di waktu yang sama, karena jaraknya itu 24 jam. Misalnya minum jam 8 pagi, maka selanjutnya harus jam 8 pagi juga. Kalau lupa atau sampai kelewat waktu, itu sama saja dengan memberi peluang virus untuk berkembang lebih cepat. Harus sedisiplin itu memang untuk konsumsi ARV. 

ARV (dok. odhaberhaksehat.org)

Pengidap HIV harus didampingi saat konsumsi ARV, karena mungkin saja dia lupa atau bosan dengan rutinitas itu. Jadi, perlu ada pendamping, belum lagi efek samping dari konsumsi ARV ini yang bisa berbeda-beda pada setiap orang.


Efek samping ARV:
  • Mual dan Muntah
  • Diare
  • Sakit Kepala
  • Masalah kulit
  • Demam
  • Sulit Tidur



Kondisi lain yang mungkin terjadi:
  • Nyeri
  • Kelelahan dan Kelemahan
  • Sesak Napas dan Batuk
  • Masalah Kulit Genital
  • Luka pada Kulit
  • Luka Baring
  • Sulit BAB
  • Cegukan
  • Rasa Cemas dan Takut
  • Linglung
  • Kejenuhan


Efek samping dan hal-hal di atas yang kemungkinan besar membuat pengidap HIV menjadi malas minum ARV dan butuh oendamping untuk terus mengingatkan dan memotivasi sampai nanti dia bisa mandiri, iya, tanpa harus diingatkan lagi untuk minum ARV. Sampai saat ini, ATV bisa didapatkan secara gratis untuk semua orang dengan HIV-AIDS.

Kalau misalnya kita terdeteksi HIV Positif, oke, jangan sedih berkelanjutan, nangis di pojokan atau sudah putus asa dengan segalanya. Enggak! Langkah pertama adalah kenali tubuh kita dan virus HIV itu, ke dokter, gali informasi sebanyak mungkin, kalau sudah mengenali, akan lebih mudah menjalani hidup dengan vitus HIV dalam tubuh kita.

Disiplin minum ARV sesuai dosis dan waktu minumnya. Seperti yang aku bilang sebelumnya, jangan sampai terlambat, bawa terus saat bepergian, kalau perlu, di rumah pun selalu dikantongin, biar enggak lupa. Hehehe.

Kontrol ke layanan kesehatan juga harus terus-menerus, setiap bulan dan jangan minum obat selain dari dokter. Obat yang lain bukan enggak boleh sebenarnya, tapi karena belum tentu ada pembuktian medisnya. Misal pengobatan alternatif, kita rnggak tahu itu ampuh atau rnggak, atau malah buang waktu dan uang saja.

Kalau lagi ketemu titik jenuh minum ARV, ingat-ingat hal yang bikin semangat untuk terus hidup sehat. Ingatlah bahwa kita enggak sendirian, ada orang lain yang juga minum ARV dan juga ada penyakit lain yang harus minum obat seumur hidup. 

Ibu Neneng Yuliani tertular HIV dari mendiang suaminya, namun semua anaknya dinyatakan HIV Negatif karena beliau menjalani pengobatan dengan benar.

Kalau kata orang hidup cuma sekali jadi harus dinikmati, hmmm, aku lebih setuju hidup berkali-kali, mati yang hanya sekali. Jadi, selalu nikmati hidup di setiap hari baru, bersyukur masih bisa bangun pagi, masih bisa bareng orang-orang tersayang, dan sebagainya.

Paling penting untuk mencari kelompok dukungan, semacam komunitas atau lembaga yang bergerak mendukung ODHA. Dengan begitu kita akan bertemu ODHA dan saling mendukung untuk minum ARV pun saling menguatkan. HIV AIDS bukan akhir segalanya, cita-cita dan impian masih bisa dicapai.

3 komentar:

  1. Alhamdullilah ada obatnya untuk penderita HIV .

    Harapan dan senyuman bisa kembali jika saling bercerita,komunikasi dan interkasi dengan sesama hiv, komunitas dan orang orang sekitar

    BalasHapus
  2. Semoga semua orang tetap bisa menjaga kesehatannya. Aaamin.

    BalasHapus
  3. Jangan minum obat dari selain dokter. Bener banget nih biar ga nyampur ya. Mereka yang terkena HIV emang bukan harus lantas nangis bersedih dan nangis di pojokan ya. Mereka harus tetap kita support dan tidak ditinggalkan dengan sendiri ya.

    BalasHapus

Hola, siapa pun anda, terima kasih sudah mampir. Semoga anda membacanya dengan seksama dan dalam tempo secukupnya. Sila tinggalkan komentar