Selasa, 16 Oktober 2018

Lima dan Satu Hal Wajib Saat Melakukan Perjalanan

Lok. Cerita Cafe (difotoin Sadewi Handayani)

Kali ini mau nulis yang agak serius, biasanya, kan, serius banget. Eh, enggak juga, sih, tergantung mood lagi macam apa. Manusia dengan mood swing kayak aku gini agak ribet memang, bukan agak, tapi beneran ribet. Diri sendiri merasa biasa saja, tapi orang sekitar biasanya yang kena imbasnya. Hmmm, oke, kita sudahi, lanjut ke niat awal.

Aku ini enggak suka keluar rumah buat hal yang enggak penting, jadi kalau keluar rumah, ya berarti memang sedang butuh atau ada yang harus dilakukan, bukan sekadar buang waktu karena pekerjaan sudah selesai, karena aku lebih memilih tidur atau baca komik untuk itu.

Rencananya beberapa waktu ke depan mau ke luar kota, antara liburan dan pekerjaan. Bahagia banget itu pasti, aku keluar kota selain untuk kerjaan juga sesekali khusus ke kampung halaman orang tua. Kalau yang satu itu sudah pasti untuk liburan sepenuhnya dan pekerjaan-pekerjaan ringan, karena lokasinya cukup sulit menangkap sinyal.

Kayaknya enggak cuma aku yang bahagia kalau keluar kota, ya, kan, secara butuh pemandangan atau suasana yang berbeda dari kota domisili. Dari berbagai kebahagiaan dan keseruan di luar kota, ada hal-hal yang penting banget dilakukan kalau lagi di luar kota.

Kalau di luar kota, aku enggak mau diam saja di penginapan atau rumah nenek, minimal aku ke pasar tradisional, kenapa pasar? Karena mal sulit dicari, hiks. Kalau bisa didaftar, sih, yang aku lakukan di luar kota adalah:

1. Pergi ke Pasar Tradisional

Lok. Pasar Piyungan Yogyakarta (dokpri)

Ini penting buat aku, karena di situlah terasa aslinya suatu daerah. Pasar tradisional buat aku pribadi punya aroma yang khas, ini merujuk ke pasar tradisional di wilayah pedesaan, ya, beda banget sama pasar tradisional yang di kota besar seperti Jakarta dan Tangerang. Entah kenapa, aku betah berlama-lama di pasar tradisional, keliling dan memerhatikan setiap sudutnya, memerhaikan setiap aktivitas di pasar itu menyenangkan.


2. Mengunjungi Beberapa Tempat Wisata

Lok. Klenteng Boen Tek Bio Tangerang (difotoin Dedy Darmawan)

Kalau waktunya enggak lama, minimal kunjungi tempat wisata terdekat dari tempat kita menginap, atau ke lokasi yang menjadi pusat atau landmark, misalnya Malioboro di Jogjakarta, Monas di Jakarta, Alun-alun kota, dan sejenisnya, yang penting ada satu lokasi wisata yang kita datangi, enggak sekadar tahu ada di daerah itu.


3. Jajan Makanan Khas

Sate padang (dokpri)
Model: Gita Citra Puspita

Setiap mengunjungi tempat baru aku selalu cari tahu makanan khas di sana itu apa, dan langsung cobain, cari sampai ketemu pokoknya. Untuk hal ini sebenarnya lebih asik kalau kita tanya penduduk sekitar, dan sekalian tanya yang enak dijual di mana. Kalau enggak ada uang lebih untuk beli oleh-oleh, minimal kita sudah cobain, lagi pula enggak semua jenis makanan bisa bertahan lama atau bisa dibawa dalam perjalanan jauh.


4. Beli Produk Unik

Kain Ikat Kalimantan (dokpri)

Satu hal ini biasanya kita temukan di tempat wisata atau pusat oleh-oleh. Dan, yang satu ini biasanya harus ada dana lebih, kalau kira-kira enggak butuh sebaiknya enggak usah beli, atau semisal akan sering ke kota tersebut, bisa direncanakan dahulu atau belinya dicicil, maksudnya jangan langsung beli banyak. Mungkin pas pertama datang bisa beli tas dahulu, berikutnya bisa beli pakaian, hiasan, atau yang lain. Tapi kalau kondisinya kita enggak tahu kapan ke sana lagi, ya, silakan beli namun sesuaikan dana yang ada. Berhubung aku termasuk orang yang enggak suka belanja, jadi 90% aku enggak akan tergoda. Hehehe.


5. Foto

Lok. Bukit Bintang Yogyakarta (dokpri)

Ini penting, paling utama yang harus dilakukan di mana pun, eh, maksudnya kalau lagi perjalanan keluar kota adalah mengabadikan momen. Bagus enggaknya itu belakangan yang penting ambil banyak foto dulu. Bukan niat narsis atau pamer, minimal untuk dokumentasi pribadi, sebagai bukti bahwa kita pernah ke sana dan bersama siapa. Mengingat hal-hal seru saat perjalanan dari melihat foto yang ada.


Kelima hal di atas yang penting menurutku. Setiap perjalanan enggak ada yang mulus semulus jalan tol, ada saja hambatan atau hal-hal tak diinginkan, misalnya kemacetan, rasa makanan yang enggak cocok di lidah, transportasi, dan lain sebagainya. Kalau aku enggak terlalu memusingkan itu, yang penting pergi sama orang-orang yang menyenangkan, contohnya sama kamu, iya, kamu.

Kalau lagi jauh dari rumah, masalah aku cuma satu biasanya, yang hampir selalu terjadi, yaituuu enggak 'eek' selama dua atau tiga hari, huwaaa. Bukan enggak mau, tapi enggak bisa kalau di tempat baru, parah banget lah itu. Sengaja juga akunya enggak minum atau makan sesuatu yang bisa melancarkan pencernaan. Seperti yang aku bilang sebelumnya, beberapa waktu ke depan aku mau keluar kota, dan seorang teman yang tahu masalahku ini tiba-tiba kirim whatsapp “Wid, nih, lu bawa ini, nih.” Sambil kirim foto produk dengan kemasan hijau, tertulis Herbadrink Lidah Buaya. “Emang itu apaan, Det?” aku belum tahu apa itu, hanya ada tulisan kecil di kanan atas yang terbaca JAMU.

Seperti biasa, dia malas menjelaskan dan aku dikasih satu tautan tentang produk itu, jadi ternyata itu minuman yang bisa membantu memelihara kesehatan fungsi pencernaan dan membantu melancarkan buang air besar. Oke, aku memang suka sama lidah buaya, dan ini kayaknya membantu. So, enggak lama kemudian aku ke swalayan, belanja yang lain lalu ketemu herbadrink, ada yang Chrysanthemum, Sari Temulawak, Sari Jahe, Kunyit Asam, Beras Kencur, dan Lidah Buaya.

Penasaran juga mau cobain, akhirnya aku ambil Lidah Buaya dan Kunyit Asam, masing-masing harganya Rp 18.900 dan Rp 13.600. Kunyit asam ini buat aku, sih, terlalu manis, enggak tahu juga kalau efek dari air yang dipakai, kebetulan aku buatnya pakai air dingin dari kulkas. Hehehe.

(dokpri)

Herbadrink Lidah Buaya aku buatnya pakai air dingin kulkas juga, di kemasan tertulis Sugar Free, dan, benar saja rasanya asli, manis tapi bukan manis tambahan. Rasanya segar, yang ini seriusan, enggak drama, emang rasanya itu enak. Reaksinya ini enggak lama, ya, beberapa jam, sih, jadi baiknya minum herbadrink lidah buaya jangan pas mau keluar penginapan, tapi pas sudah di penginapan dan yakin enggak keluar lagi.

(dokpri)

Kalau kayak gini, sih, selain lima daftar di atas, ada tambahan yang menjadi bawaan wajib, iya, Herbadrink Lidah Buaya, mungkin bisa nambah Sari Jahe biar hangat walau enggak lagi sama kamu. Eh, maksudnya, ya, hmmm, gitu, deh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hola, siapa pun anda, terima kasih sudah mampir. Semoga anda membacanya dengan seksama dan dalam tempo secukupnya.