Langsung ke konten utama

Hepatitis Lebih Berbahaya dari HIV

Faktanya, 1 dari 10 orang Indonesia menderita hepatitis B dan telat diketahui. Kenapa bisa gitu?


Oke, dengan panduan Eyang Anjari kita cari tahu tentang hepatitis bersama dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan RI dan Dr.dr. Andri Sanityoso Sulaiman, SpPD-KGEH Sekretaris Jenderal PB Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI). Kenalan dulu, deh, Hepatitis itu penyakit yang disebabkan oleh virus dan menyerang hati. Hepatitis yang biasa kita kenal itu A B C D E, nama virusnya pun sesuai jenis hepatitis yang mana.

(Ki-ka): Eyang Anjari, Ibu Wiendra, dan Bapak Andri (dok. Pribadi)

Hepatitis B di Indonesia sendiri menjadi yang terbesar jumlahnya, bahkan nomor 2 terbesar di antara negara anggota WHO SEAR. Hmmm, bisa jadi teman dekat kita punya hepatitis, Gaes, atau bahkan diri kita sendiri dan kita enggak sadar hal itu. Soalnya hepatitis ini hampir enggak ada gejala, banyak kasus hepatitis diketahui ketika sudah kronis. Hanya 20% pengidap yang memperlihatkan gejalanya yaitu kuning, dulu hepatitis disebut sakit kuning.

Lebih baik yang terlihat kuning karena penanganannya pasti akan lebih cepat, karena sudah diketahui, dan 80% tanpa ada gejala atau tanda-tanda, justru lebih berbahaya. Dibandingkan dengan HIV-AIDS ternyata hepatitis ini jauh lebih berbahaya, lebih mengancam dibanding HIV-AIDS yang kita kenal selama ini mematikan.

Virus yang ditemukan oleh Baruch Samuel Bloomberg pada 28 Juli ini penularannya masing-masing jenis itu berbeda, kalau hepatitis A dan E ditularkan melalui kotoran mulut, biasanya dari makanan dan minuman yang tercemar virus hepatitis. Hepatitis B C D ditularkan melalui kontak cairan tubuh seperti melalui darah, hubungan seksual, dan kulit terluka. Sejauh ini, kita lebih kenal dengan hepatitis A B dan C.

Hepatitis itu berasal dari kata hepar yang berarti hati dan itis yang berarti radang, jadi hepatitis adalah peradangan hati. Penyebabnya selain virus bisa juga dari alkohol, perlemakan, parasit, herpes, juga obat-obatan. Jika hepatitis tidak terdeteksi, maka tahapannya adalah hepatitis kronis, sirosis, hingga kanker hati.

Ibu hamil yang mengidap hepatitis, anak yang dilahirkan 95% berpeluang terkena virus yang sama. Makanya jika diketahui si ibu memiliki riwayat hepatitis B, maka kurang dari 24 jam setelah anak lahir harus langsung disuntikkan HB0. Hepatitis B tidak bisa disembuhkan, karena belum ada obat yang bisa mematikan virus intinya, kalau hepatitis C masih bisa benar-benar sembuh, namun tidak bisa nelakukan donor darah karena bisa dibilang darahnya sudah kotor.


HEPATITIS A

Gejala:
  • Demam
  • Rasa lemas
  • Nafsu makan berkurang
  • Mual, muntah
  • Nyeri pda perut bagian kanan atas.
  • Air kencing berwarna teh
  • Ikterus, warna kuning pada mata dan kulit.
  • Makin muda usia, gejala umumnya tidak muncul.


Pencegahan:
  • Masak makanan sampai mendidih atau dengan suhu tinggi dan air bersih sebelum dimakan.
  • Budayakan perilaku hidup bersih dan sehat seperti cuci tangan sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan, setelah buang air, juga buang air besar di jamban.
  • Pemberian imunisasi Hepatitis A.



HEPATITIS B

Gejala:
  • Cepat lelah
  • Demam
  • Mual, nyeri perut
  • Nafsu makan berkurang


Pencegahan:
  • Pemberian imunisasi hepatitis B. Imunisasi aktif untuk bayi baru lahir, imunisasi pasif untuk bayi lahir yang terkontaminasi darah penderita atau ibunya sendiri, dan imunisasi pada remaja juga dewasa setelah dilakukan tes laboratorium.
  • Tidak menggunakan alat-alat pribadi secara bergantian.
  • Tidak melakukan tatto, tindik, dengan alat yang tidak steril.
  • Tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian bagi pengguna narkoba suntik.
  • Tidak menggunakan alat pengobatan tradisional yang tidak steril seperti akupunktur, bekam, dan lain-lain.



HEPATITIS C

Gejala:
  • Cepat lelah
  • Mual, nyeri perut
  • Demam
  • Nafsu makan berkurang


Pencegahan:
  • Tidak menggunakan alat-alat pribadi bergantian.
  • Tidak melakukan tatto, tindik dengan alat yang tudak steril.
  • Tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian bagi pengguna narkoba suntik.
  • Tidak menggunakan alat pengobatan tradisional yang tidak steril seperti akupunktur, bekam, dan lain-lain.


Sejak 2016 sampai Juni 2018 pengendalian hepatitis di Indonesia sudah mencapai sosialisasi faktor risiko di 34 provinsi, imunisasi rutin hepatitis B pada bayi sudah 93,5%, deteksi dini hepatitis B sudah dilakukan di 244 kabupaten/kota. Dan, deteksi dini hepatitis B pada 742.767 ibu hamil sehingga berhasil memproteksi 7.268 bayi terhadap ancaman penularan vertikal dari ibunya.

Hepatitis ini enggak bisa dianggap sepele, penting banget untuk deteksi dini demi generasi bangsa. Pemerintah masih terus berusaha membuat Indonesia yang dulunya adalah negara endemia tinggi hepatitis menjadi negara yang bebas hepatitis. Bantu pemerintah dengan mulai deteksi dini dan melakukan kebiasaan hidup bersih dan sehat.

(dok. Elisa Koraag)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Persiapan Dana Pensiun Untuk Pekerja Lepas

Beberapa waktu lalu berkunjung ke rumah Pakdhe (sebutan untuk kakak laki-laki dari orang tua dalam bahasa Jawa), sedikit banyak bercerita, bertukar kabar, pandemi membuat segalanya terbatas, sapaan dalam jaringan tidak bisa menggantikan. Obrolan mengalir lancar, sedikit ejekan pun tak terlewat, Pakdhe yang satu ini sudah lanjut usia, namun jiwanya tetap muda, bisa mengikuti ritme kerabat yang seusiaku, nyaman untuk berbincang dengan beliau, mungkin salah satu faktornya adalah kehidupan masa tuanya yang tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Beliau aman secara finansial, dan lingkungan keluarga yang cukup harmonis.

Pendidikan Non Formal Sebagai Pendukung Pendidikan Formal

Foto sweetlouise dari pixabay Tahun 2022, bulan Februari, yang sekarang kelas 6 SD, 3 SMP, dan 3 SMA pasti lagi mumet cari-cari sekolah dan universitas, banyak banget pertimbangan, mulai dari minat sampai kesanggupan orang tua. Meski sekarang sistem zonasi berlaku, tetap saja ada banyak hal yang dipertimbangkan jika terkait pemilihan sekolah. Untuk yang universitas, sudah pasti mencari yang punya jurusan impian, akreditasinya bagus, lokasinya oke, biayanya terjangkau, dan lain-lainnya.

Begini Liburan yang Menakjubkan dan Nyaman

Enggak terasa kayaknya tahun baru 2017 baru kemarin, eh, sekarang sudah menjelang liburan akhir tahun, ya. Temans mau ke mana saja, nih? Sudah rencana liburan ke suatu tempat? Atau mau di rumah saja dan mengunjungi lokasi terdekat? Tapi pasti sudah banyak yang persiapan ke luar kota atau ke luar negeri. Kalau aku, sih, masih pilih liburan di dalam negeri saja, punya passport sudah dua tahun dan masih bersih. Hmmm. Bebas, ya, mau liburan di mana saja dan ke mana saja asalkan sama kamu, iya kamu. Uwuwuw.