Jumat, 03 Agustus 2018

Hepatitis Lebih Berbahaya dari HIV

Faktanya, 1 dari 10 orang Indonesia menderita hepatitis B dan telat diketahui. Kenapa bisa gitu?


Oke, dengan panduan Eyang Anjari kita cari tahu tentang hepatitis bersama dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan RI dan Dr.dr. Andri Sanityoso Sulaiman, SpPD-KGEH Sekretaris Jenderal PB Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI). Kenalan dulu, deh, Hepatitis itu penyakit yang disebabkan oleh virus dan menyerang hati. Hepatitis yang biasa kita kenal itu A B C D E, nama virusnya pun sesuai jenis hepatitis yang mana.

(Ki-ka): Eyang Anjari, Ibu Wiendra, dan Bapak Andri (dok. Pribadi)

Hepatitis B di Indonesia sendiri menjadi yang terbesar jumlahnya, bahkan nomor 2 terbesar di antara negara anggota WHO SEAR. Hmmm, bisa jadi teman dekat kita punya hepatitis, Gaes, atau bahkan diri kita sendiri dan kita enggak sadar hal itu. Soalnya hepatitis ini hampir enggak ada gejala, banyak kasus hepatitis diketahui ketika sudah kronis. Hanya 20% pengidap yang memperlihatkan gejalanya yaitu kuning, dulu hepatitis disebut sakit kuning.

Lebih baik yang terlihat kuning karena penanganannya pasti akan lebih cepat, karena sudah diketahui, dan 80% tanpa ada gejala atau tanda-tanda, justru lebih berbahaya. Dibandingkan dengan HIV-AIDS ternyata hepatitis ini jauh lebih berbahaya, lebih mengancam dibanding HIV-AIDS yang kita kenal selama ini mematikan.

Virus yang ditemukan oleh Baruch Samuel Bloomberg pada 28 Juli ini penularannya masing-masing jenis itu berbeda, kalau hepatitis A dan E ditularkan melalui kotoran mulut, biasanya dari makanan dan minuman yang tercemar virus hepatitis. Hepatitis B C D ditularkan melalui kontak cairan tubuh seperti melalui darah, hubungan seksual, dan kulit terluka. Sejauh ini, kita lebih kenal dengan hepatitis A B dan C.

Hepatitis itu berasal dari kata hepar yang berarti hati dan itis yang berarti radang, jadi hepatitis adalah peradangan hati. Penyebabnya selain virus bisa juga dari alkohol, perlemakan, parasit, herpes, juga obat-obatan. Jika hepatitis tidak terdeteksi, maka tahapannya adalah hepatitis kronis, sirosis, hingga kanker hati.

Ibu hamil yang mengidap hepatitis, anak yang dilahirkan 95% berpeluang terkena virus yang sama. Makanya jika diketahui si ibu memiliki riwayat hepatitis B, maka kurang dari 24 jam setelah anak lahir harus langsung disuntikkan HB0. Hepatitis B tidak bisa disembuhkan, karena belum ada obat yang bisa mematikan virus intinya, kalau hepatitis C masih bisa benar-benar sembuh, namun tidak bisa nelakukan donor darah karena bisa dibilang darahnya sudah kotor.


HEPATITIS A

Gejala:
  • Demam
  • Rasa lemas
  • Nafsu makan berkurang
  • Mual, muntah
  • Nyeri pda perut bagian kanan atas.
  • Air kencing berwarna teh
  • Ikterus, warna kuning pada mata dan kulit.
  • Makin muda usia, gejala umumnya tidak muncul.


Pencegahan:
  • Masak makanan sampai mendidih atau dengan suhu tinggi dan air bersih sebelum dimakan.
  • Budayakan perilaku hidup bersih dan sehat seperti cuci tangan sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan, setelah buang air, juga buang air besar di jamban.
  • Pemberian imunisasi Hepatitis A.



HEPATITIS B

Gejala:
  • Cepat lelah
  • Demam
  • Mual, nyeri perut
  • Nafsu makan berkurang


Pencegahan:
  • Pemberian imunisasi hepatitis B. Imunisasi aktif untuk bayi baru lahir, imunisasi pasif untuk bayi lahir yang terkontaminasi darah penderita atau ibunya sendiri, dan imunisasi pada remaja juga dewasa setelah dilakukan tes laboratorium.
  • Tidak menggunakan alat-alat pribadi secara bergantian.
  • Tidak melakukan tatto, tindik, dengan alat yang tidak steril.
  • Tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian bagi pengguna narkoba suntik.
  • Tidak menggunakan alat pengobatan tradisional yang tidak steril seperti akupunktur, bekam, dan lain-lain.



HEPATITIS C

Gejala:
  • Cepat lelah
  • Mual, nyeri perut
  • Demam
  • Nafsu makan berkurang


Pencegahan:
  • Tidak menggunakan alat-alat pribadi bergantian.
  • Tidak melakukan tatto, tindik dengan alat yang tudak steril.
  • Tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian bagi pengguna narkoba suntik.
  • Tidak menggunakan alat pengobatan tradisional yang tidak steril seperti akupunktur, bekam, dan lain-lain.


Sejak 2016 sampai Juni 2018 pengendalian hepatitis di Indonesia sudah mencapai sosialisasi faktor risiko di 34 provinsi, imunisasi rutin hepatitis B pada bayi sudah 93,5%, deteksi dini hepatitis B sudah dilakukan di 244 kabupaten/kota. Dan, deteksi dini hepatitis B pada 742.767 ibu hamil sehingga berhasil memproteksi 7.268 bayi terhadap ancaman penularan vertikal dari ibunya.

Hepatitis ini enggak bisa dianggap sepele, penting banget untuk deteksi dini demi generasi bangsa. Pemerintah masih terus berusaha membuat Indonesia yang dulunya adalah negara endemia tinggi hepatitis menjadi negara yang bebas hepatitis. Bantu pemerintah dengan mulai deteksi dini dan melakukan kebiasaan hidup bersih dan sehat.

(dok. Elisa Koraag)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hola, siapa pun anda, terima kasih sudah mampir. Semoga anda membacanya dengan seksama dan dalam tempo secukupnya.