Sabtu, 21 April 2018

Mandiri Marathon 2018 dan Yogyakarta

Medali MJM 2018 (dok. Ratna Dwi Kusumawardhani)

Siapa suka olahraga? Aku, sih, biasa saja. Suka olahraga tapi bukan addict gitu, yaaa, sesempat dan seingatnya saja. Huhuhu. Olahraga yang paling gampang itu lari, jalan cepat, workout di rumah enggak gampang, cuma enggak harus keluar rumah saja. Kayak sit-up, push-up, pillates, dan kawan-kawannya itu, bisa dilakukan di rumah.

Aku juga lebih memilih workout di rumah saja, sih, tapi bukan berarti enggak suka olahraga yang di luar ruangan atau di tempat yang luas seperti bulu tangis, basket, juga lari. Hari Minggu kemarin tanggal 15 April 2017 ada lomba lari marathon di Jogja, yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri, namanya Mandiri Jogja Marathon 2018. Aku pernah ikutan yang sejenis ini tahun 2017, seru banget. Tapi yang Mandiri ini di Jogja, pusatnya di pelataran candi Prambanan.

Start (dok. Medialogy)

Pesertanya 7500 orang, selain dari Indonesia pastinya, juga beberapa negara yaitu Malaysia, Jepang, Kenya, Brunei, Irlandia, India, China, Brazil, Singapura, Filiphina, dan Australia. Mereka adalah pelari sejati, buktinya sampai jauh-jauh ke Indonesia untuk jadi peserta lomba lari Marathon. 

Nomor larinya ini ada 4 dan jadwal start juga berbeda. Full Marathon sejauh 42,195 km dan start pukul 04:45 WIB. Half marathon sejauh 21km start pukul 05:30 WIB. Nomor 10km start pukul 06:00 WIB, dan nomor 5km start pukul 06:30 WIB. Rute lari ini lewatin tempat-tempat wisata di Yogyakarta dan sekitarnya. Pastinya candi Prambanan, candi Plaosan, Monumen Taruna, kawasan pertanian, dan lingkungan pedesaan dengan berbagai kearifan lokal.

Salah dua peserta MJM 2018 (dok. Ratna Dwi Kusumawardhani - kiri)

Kenapa rutenya kayak gitu? Enak berhenti terus foto-foto, menjelajah dan lain-lain, kan, ya. Hihihi. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta Aris Riyanto, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan awareness terhadap kebudayaan lokal, sehingga efeknya adalah peningkatan jumlah wisatawan dalam dan luar negeri ke Yogyakarta dan sekitarnya.

Yogyakarta itu memang seperti punya magnet untuk wisatawan atau siapa pun yang pernah ke sana dengan kepenting apa pun, pasti ingin kembali lagi dan lagi ke Yogyakarta. Katanya, Yogyakarta selalu punya cerita, selalu menjalin rindu pada pemilik cinta. Kalau ingin diceritakan, tak 'kan cukup tinta sebanyak lautan. Selain budaya dan kearifan lokal, Yogyakarta penuh cinta dan rasa yang tak bisa ditemukan di tempat lain.

Aku pun setuju yang teramat sangat, tanpa perlu kujelaskan alasannya, karena Yogyakarta adalah satu paket, ya, seperti di Mandiri Jogja Marathon yang memberikan bagian isi Yogyakarta dan sekitarnya. Kebudayaan dan kuliner, mereka hadir mendukung kegiatan lari marathon dalam bentuk food festival. Bukan tanpa alasan, semua dihadirkan untuk mengangkat kesenian dan tradisi lokal Yogyakarta agar dikenal lebih luas lagi. 

Jenang salah satu jajanan di Food Kraton Festival (dok. Medialogy)

Untuk kelancaran acara, Bank Mandiri menggelontorkan dana Rp 1.000.000.000 untuk memperbaiki infrastruktur jalan dan sarana umum di Kabupaten Sleman. Totalitas, untuk menikmati jajanan di food festival pun pembayaran menggunakan e-money, lebih simple karena enggak mikirin kembalian dan uang receh, karena harga jajanan-jajanan itu murah pakai banget kalau aku biasa beli. Ya, tetap saya tergantung lokasi jajannya di mana, kalau tempat wisata, ya, sama saja, tapi ya namanya Jogja, masih terbilang murah daripada di Jakarta. 

(dok. Medialogy)

Kebudayaan yang disajikan di lari marathon ini banyak, ada enam kesenian di sembilan titik kilometer lari. Jathilan ada di kilometer 6, 22, dan 40. Barongan di kilometer 38, Keroncong di kilometer 34, Karawitan di kilometer 12, Gejog Lesung ada di kilometer 35, dan Badui di kilometer 9 dan 26. Hiburan-hiburan itu dari sekolah, komunitas seni, sanggar, dan juga kelompok lainnya.

Jathilan - Kesenian daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah yang biasa dikenal kuda lumping, atau jaran kepang.

Jathilan (dok. Info Travel Jogja)


Barongan - Karakter dalam mitologi Jawa, Bali, Sunda, dan Madura sebagai perwujudan raja roh-roh sebagai lambang kebaikan.

Barongan (dok. agendaku.id)


Keroncong - Musik khas Indonesia yang menggunakan instrumen musik dawai, flut, dan vokal.

Keroncong (dok. Wikipedia.org)


Karawitan - Kesenian musik tradisional jawa yang mengacu pada permainan musik gamelan.

Karawitan (dok. negerikuindonesia.com)


Gejog Lesung - Kesenian tradisional memainkan lesung sehingga menghasilkan suara yang indah.

Gejog Lesung (rebanas.com)


Badui - Tarian rakyat yang menggambarkan suatu adegan peperangan dari rombongan prajurit yang sedang melakukan suatu latihan perang.

Badui (dok. krjogja.com)


Selain disuguhi kesenian Yogyakarta dan sekitarnya, ada 8000 buah pisang yang siap disantap para pelari. Istimewanya, buah pisang itu dibeli dari para penduduk sekitar, sudah pasti berbeda dengan pisang yang biasa kita lihat di Jakarta.

Pisang untuk peserta (dok. Medialogy)

Enggak selesai sampai situ, para peserta dan siapa pun bisa ikutan kuis yang diadakan Jadi Mandiri, cuma modal foto-foto saat acara Mandiri Jogja Marathon 2018, bisa dapat kamera dan uang tunai. Buat para peserta, sayang banget kalau enggak ikutan, kan, infonya ada di Jadi Mandiri. Baiklah, sampai jumpa di marathon berikutnya.

Finish (dok. Medialogy)

Penampilan GAC (dok. Ratna Dwi Kusumawardhani)

1 komentar:

  1. hihi, kebetulan saya kemarin ikut event ini kategori full marathon :-)

    BalasHapus

Hola, siapa pun anda, terima kasih sudah mampir. Semoga anda membacanya dengan seksama dan dalam tempo secukupnya.