Senin, 29 Januari 2018

Freelancer dan Perencanaan Keuangan

Gaes, Bagas masih punya Mozilla lho sebagai browser-nya. Aku masih pakai browser itu sesekali. Oh, ya, Bagas itu lappy aku, ya. Kalau punya kamu namanya siapa? Udah gak usah dijawab, aku enggak butuh. Uhuk

Oke, kenapa tiba-tiba aku sebut Mozilla? Soale aku kemarin ini ada acara sama penerbit Grasindo di Mozilla Community Space, ruangan punya Mozilla di Kuningan Barat, pas belakang gedung Jamsostek. Aku enggak bohong, soalnya menuju ke sana aku masuk jalur parkiran Jamsostek sampai keluar bagian belakang. Hihihi. 

Aku kasih tahu sedikit tentang tempat tersebut. Jadi, Mozilla Community Space itu dikelola oleh komunitas Mozilla, komunitasnya ini non profit, ya. Komunitas Mozilla sendiri sudah lama ada, sekitar tahun 2010 gitu, nah, kalau Mozilla Communiy Space ini baru ada di 2015. Mozilla Community Space ini bisa dan boleh dipakai siapa saja yang satu misi dengan Mozilla. Kalau mau update event Mozilla Community bisa cek link http://mozilla.or.id/space/calendar dan pendaftarannya bisa di http://bit.ly/JktSpaceEvent atau di evenbrite.

Acara penerbit Grasindo kemarin di Mozilla Community Space itu menghadirkan 2 orang pembicara, yakni Mas Lutfi Trisandi Rizki dan Mbak Iin Susanto. Sekadar info, kalau Mas Lutfi ini muridnya Om Aidil Akbar, kalau enggak tahu siapa beliau, Googling, deh. Hihihi.

Mas Lutfi Trizki ini seorang konsultan perencanaan keuangan di banyak perusahaan besar, beliau juga sering memberikan pelatihan-pelatihan dan seminar untuk berbagai golongan masyarakat. Bukan sembarang perenana keuangan, baliau ini punya sertifikasi, lho, aaakkk, keren sekaliii. Oh, ya, disampaikan juga bahwa Kominfo dan instansi terkait sedang memproses sertifikasi untuk penulis buku pelajaran, jadi, biar enggak ada hal-hal mengkhawatirkan yang masuk di buku pelajaran. Ke depannya semua profesi akan ada sertifikasinya, nah, blogger bakalan punya sertifikasi juga, nih. Ketika kita bicara profesi dan sertifikasi, maka kompetisi dasar yang dipertanyakan. Hayooo, kira-kira kamu akan punya sertifikasi apa?

Pemilik akun Twitter dan Instagram @KocekCoach ini punya 3 buku tentang perencanaan keuangan yang ditulis bersama Mbak Iin Susanto. Ketiganya sama-sama 10 langkah menjadi financial planner untuk diri sendiri, perbedaannya khusus karyawan, khusus freelancer, dan khusus ibu rumah tangga. Kebetulan aku punya yang khusus freelancer, bukunya bisa didapatkan di Gramedia atau di Grasindo. Mbak Iin itu penulis, salah satu bukunya best seller dengan judul 99 Pola Pikir yang Membuat Orang Jadi Susah Kaya.


Ada perbedaan jelas antara perencanaan keuangan dan kecerdasan financial. Perencanaan keuangan itu mengatur budget untuk mencapai tujuan keuangan. Sedangkan, kecerdasan financial itu kemampuan seseorang untuk dapat mengambil keputusan atas keuangannya. Jadi, semua orang bisa membuat perencanaan keuangannya, tapi cuma yang memiliki kecerdasan financial yang bisa membuat keputusan dalam perencanaan keuangannya. Maksudnya pengalokasiannya tepat dan tidak membutuhkan bantuan orang lain.

Di buku perencanaan keuangan khusus freelancer ini salah satu langkahnya adalah Jaga Aset Terpenting dengan Memiliki Asuransi. Pada halaman 42 tertulis “Ingatlah bahwa Anda adalah asset bisnis Anda sendiri”, jadi, maksudnya adalah asuransikan diri kita. Asuransi kesehatan itu penting, akan sangat membantu jika kita sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit, lalu untuk semua biayanya bisa mengandalkan asuransi. Perihal asuransi harus beli yang tepat karena banyak orang salah dalam membeli asuransi, mereka pikir sudah aman, padahal mereka enggak tahu apa yang dibeli dan apa yang akan didapatkannya nanti. Ayo, pelajarin lagi tentang asuransi, di OJK itu ternyata banyak kasus claim asuransi, baiknya beli asuransi murni.

Asuransi itu untuk kepala keluarga, karena maksud dari asuransi itu adalah jika si kepala keluarga meninggal, maka ahli waris akan mendapatkan dana dari asuransi tersebut. Kalau pendapatan kita belum bisa buat beli asuransi kesehatan, baiknya kita jaga kesehatan.walau bisa investasi ini itu, kita tetap harus punya dana cadangan atau dana darurat, karena kita enggak pernah tahu kapan kita butuh itu.

Pakai produk jasa keuangan itu boleh banget tapi harus tepat, sesuaikan dengan kebutuhan. Sebagai konsumen jasa keuangan, kita dilindungi oleh OJK, jadi kalau ada yang merasa aneh atau enggak jelas tentang jasa keuangan yang kita gunakan, coba periksa ke OJK.

Mas Lutfi juga menambahkan, kita baiknya punya investasi apapun bentuknya. Tapi, disarankan beli reksa dana karena jangkanya panjang, jadi sama saja seperti kita menabung, kan diawasi dan terdaftar di OJK. Perlu diketahui juga, nih, bahwasanya deposito itu bukanlah investasi. Kenapa? Karena deposito itu kalah dengan inflasi. Uang di Bank memang aman tapi tetap harus dipikirkan kalau untuk investasi, kaena yang namanya investasi berarti kita bicara tentang masa depan. Keuangan itu adalah tentang peace of mind, bukan berapa banyak harta yang dimiliki, tapi seberapa tenang, aman, dan bebas kita dalam hal keuangan.

Kebebasan financial itu berarti bebas dari hutang,memiliki pendapatan yang rutin atau tetap, lunas KPR jika punya. Untuk yang sudah berkeluarga, anak lulus sekolah dan terproteksi secara financial. Jika semua sudah diberi tanda ceklis, artinya kita berada di tahap kebebasan financial

Dalam hidup, kita punya waktu 33 tahun usia produktif, dan 41 tahun usia tidak atau kurang produktif. Usia 0 – 21 tahun termasuk usia tidak produktif, saat itu manusia hanya mengonsumsi uang. Di usia 22 – 55 tahun termasuk dalam usia produktif yang artinya mengonsumsi dan menghasilkan uang. Usia 56 – 75 tahun temasuk usia kurang produtif dan sepert usia 0 – 21 tahun yang hanya mengonsumsi uang. Jadi di usia 22 – 55 tahun inilah kita harus membuat perencanaan keuangan yang tepat dalam jangka panjang.

Sekecil apapun langkah financial yang kita ambil saat ini akan menentukan langkah-langkah besar kita di kemudian hari. Pengeluaran itu terbatas dan pendapatan itu tidak terbatas, jangan dibalik-balik. Pengeluaran bisa ditekan dan dialihkan untuk investasi, dan pendapatan itu tidak terbatas, kita bisa dapat dari mana pun. Dengan memperbaiki kebiasaan hedonis dan memperbanyak kebisaan, sangat membantu perencanaan keuangan kita, lho. 

Dalam perencanaan keuangan enggak melulu harus pakai produk lembaga keuangan Bank dan bukan Bank. Untuk investasi misalnya bisa dengan menyimpan emas, atau tanah, bisa juga berupa bangunan yang disewakan. Misalnya belum bisa investasi, coba nabung rutin sedikit-sedikit dari setiap pemasukan, namanya feelancer, kan, mesti matang hitungannya. Hihihi. 

Ketika sudah berkeluarga, perencanaan keuangan itu harus dibicarakan berdua dengan pasangan, biar enggak ada yang ngumpet-ngumpet pakai uang buat beli apa yang diinginkan. Hahaha. Jika orang tua punya aset banyak, penting untuk ngasih tahu ke anak atau ahli warisnya, jangan sampai anak atau ahli waris enggak tahu kalau orang tua atau keluarganya punya asset banyak.

Oh, ya, ajarkan anak membuat goals jika menginginkan sesuatu, jangan langsung dibelikan, ajarkan dia menabung untuk bisa mendapatkan barang yang dia inginkan. Tujuannya selain belajar memiliki perencanaan, dia juga bisa menjaga dan menghargai barang yang dimiliki dari usahanya sendiri. Selain diajarkan menabung, anak juga perlu diberi pemahaman akan indahnya berbagi. Uang tabungan jangan hanya untuk memiliki sesuatu yang diinginkannya. Tanamkan bahwa berbagi itu tidak akan membuat kita miskin. 

Aset itu harus dihitung, dan kewajibannya apa saja. Setelah dihitung akan terlihat jumlah harta. Kekayaan bersih seseorang itu cuma buat nunjukkin apakah dia dalam keadaan defisit atau surplus. Dalam arus kas ada 3 post penting, yaitu investasi, biaya operasional, dan dana darurat. Mbak Iin Susanto mengutamakan dana darurat sebagai post utama. Eits! Itu dulu, sebelum tahu ilmunya dari Mas Lutfi. Setelah tahu apa saja post dan tujuannya, mbak Iin menjadikan dana darurat sebagai post terakhir.

Dalam catatan arus kas, hutang yang dimiliki itu maksimal 35%, asuransi minimal 10%, tabungan minimal 10%, dan kebutuhan sehari-hari sekitar 45%. Semuanya dihitung dari total pendapatan dan perbulan. Simpanan dana darurat untuk freelancer minimal 12 sampai 18 kali jumlah pengeluaran setiap bulannya. Jadi, misalnya selama 3 bulan ke depan kita yang freelancer tidak ada pemasukan, masih aman karena ada dana darurat. Untuk membuat dana darurat, sisihkan 20-30 persen dari setiap uang yang kita terima. Satu hal, jangan pernah mengambil uang di dana darurat kalau enggak mendesak.

Yup, itulah lika-liku freelancer dalam perencanaan keuangan. So, yakin mau lepas status karyawan kamu?

Mbak Iin Susanto (kiri), Mas Lutfi Trizki (kanan)

Komunitas BloMil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hai, terima kasih sudah mampir, semoga anda membacanya dengan saksama dan berkenan meninggalkan komentar. Salam. :)