Langsung ke konten utama

Satu Tahun Bisa Jadi Pebisnis

 


Tahun ini sudah berapa kali mendengar bahasan resesi ekonomi. Ges?

Perasaan setiap tema ekonomi tuh ada saja yang sebut resesi 2023. Padahal kalau ngomongin krisis, kita sudah mengalami yang luar biasa, kna, ya, di tahun 1998.

Iya, saat semua masyarakat mengalami kesulitas ekonomi, kekacauan di mana-mana. Tapi sekarang tahun 2022, nih. Kita semua, Indonesia masih berdiri tegak, artinya kitab isa melalui 1998, kan, ya. Semua orang berjuang, berusaha dengan caranya masing-masing untuk bertahan. Salah satunya adalah hebatnya masyarakat kita dalam bertahan di tengah permasalahan ekonomi yang luar biasa. Salah satu yang bisa membuat masyarakat bertahan adalah bidang perniagaan, berjualan, iya, menjual apa yang bisa mereka hasilkan, yang mampu mereka perbuat.

Enggak sedikit tempat yang dijadikan taman jajan, bahkan setiap malam hari kita pasti menemukan pedagang-pedagang yang berjualan di pinggir jalan, menggunakan tenda-tenda terpal. Jangan diremehkan, penghasilan mereka bisa jadi lebih besar dari anda yang bekerja kantoran di sebuah perusahaan. 

Jika takut soal resesi, jika khawatir akibatnya nanti sebagai tenaga kerja, kenapa enggak dimulai secepatnya untuk bisa menjadi pemilik lapangan kerja? Berdasarkan data tahun 2021 dari Kementerian Perdagangan, pengusaha di Indonesia itu ada 3.55%. Jumlahnya lumayan lah ini, hitung saja sendiri dari total penduduk di Indonesia.

Jangan senang dahulu, bestie. Untuk ukuran negara berkembang, angka itu sudah bagus, karena minimal 2% berdasarkan penelitian Mc Celland dari Harvard University,  tetapi ternyata yang muslimpreneur itu masih sedikit banget, dari data 10 orang terkaya di Indonesia, yang muslim Cuma 1, Pak CT. Muslim sendiri padahal jadi mayoritas, kan, ya, di Indonesia, sayangnya belum banyak yang berkiprah menjadi pengusaha.


Aula KBUU (dok. pribadi)

Umar Usman Business School adanya di Khadijah Learning Center, Tangerang Selatan. Siapa, sih, makhluk ini?

Yok, kenalan!

Kampus Bisnis Umar Usman itu lembaga pendidikan non formal yang hadir untuk fokus melahirkan pengusaha muslim yang sudah berjalan selama 10 tahun ini. Menjadi wadah bagi para anak muda muslim untuk berproses menjadi pengusaha, dan lebih siap menghadapi persaingan masa depan. Apalagi tantangannya bukan hanya resesi, globalisasi terutama, jadi hal yang luar biasa menantang, kalau enggak siap, kita akan ikut menghilang bersama waktu. Menjadi pengusaha, itu artinya kita ikut berkontribusi menyiapkan lapangan kerja, apalagi soal bonus demografi yang akan kita miliki beberapa taun ke depan.

Kampus bisnis Umar Usman ini diinisiasi oleh Ippho Santosa dan Dompet Dhuafa pada tahun 2021. Sampai pada saat ini, tahun kesepuluhnya, Umar Usman Business School sudah meluluskan sekitar 900 peserta didik. Beberapa di antaranya ada Munim, Hijacket, Zanana, aku lampirkan foto produknya, nih, siapa tahu kalian kenal.


Kering ubi (dok. pribadi)

Keripik lumpia (dok. pribadi)

Sate ayam (dok. pribadi)

Minuman berasa (dok. pribadi)

Kacang almond panggang (dok. pribadi)

Kerupuk kulit ikan (dok. pribadi)

Sabun kopi (dok. pribadi)

Kalau dilihat-lihat, cek website dan lain-lain, Kampus Bisnis Umar Usman ini keren banget, mereka pakai metode One Year Program atau Kuliah Satu Tahun dengan mengaplikasikan kurikulum terbaik dan aplikatif. Pesrta didik yang adalah calon muslimpreneur, dibina untuk bisa menjadi pengusaha. Ini bukan sekadar janji manis lembaga, tetapi program pendidikannya memang professional, selama 1 tahun itu sistemnya adalah 70% praktik dan 30% teori. Klau untuk usaha memang enggak bisa hanya dengan teori, harus terjun langsung ke lapangan, ketemu langsung sama kendalanya dan langsung menyentuh pasar sasaran.


Selama satu tahun itu, proses pembelajarannya terbagi 4 yang dilaksanakan setiap 3 bulan.

FUNDAMENTAL BISNIS

Para peserta diidk akan ditanamkan nilai dalam berbisnis, membangun karakter pebisnis, rancangan ide bisnis, sampai dengan pengelolaan uang. Semuanya itu ilmu dasar untuk bisa jadi pengusaha yang usahanya berkembang dengan baik, setidaknya bisa terus bertahan. Keuangan juga krusial, betul-betul harus bisa bedakan uang pribadi dan uang usaha, jangan asal pakai uang usaha untuk keperluan pribadi, itu contoh sederhananya.

BRANDING, SALES, & MARKETING STRATEGY

Tiga bulan berikutnya peserta didik akan menerima ilmu tentang merek, penjualan, dan strategi pemasaran. Ketiganya ini satu paket, enggak bisa dipisahkan dalam bisnis apapun. Sekalipun merek sudah dibangun sampai dengan logo, jika tidak melakukan penjualan, buat apa? lalu, untuk bisa menjual, artinya produk harus diperkenalkan, dipasarkan. Banyak sekali cara atau teknik pemasaran, tergantung dari apa bentuk produk yang kita jual.

BUSINESS MENTORSHIP & BUSINESS PERFORMANCE

Mulai bulan ketujuh, peserta didik langsung praktik, terjun langsung ke lapangan. Mulai menerapkan ilmu-ilmu yang sudah diajarkan sebelumnya. Langsung cari tahu dan belajar, bagaimana kondisi pasar, bagaimana produknya bisa diterima. Relasi harus terus dibangun, belajar dan terus perluas wawasan.

BUSINESS MANAJERIAL

Tiga bulan terakhir adalah saat penting untuk bisa merawat usaha yang kita jalankan. Jangan berpikir usahanya masih kecil, nanti saja belajarnya, nanti saja dirapikannya. Tidak bisa seperti itu, sahabat!

Justru sejak merintis itulah harus jelas pengelolaan operasionalnya, susun standar operasional kerjanya, SDMnya jangan asal, pelatihan itu perlu banget supaya mendukung SOP yang sudah diuat. Karena sudah tahap akhir, ini akan lebih serius, perihal legalitas sampai pendampingan melalui pelatihan personal.


Secara pribadi, aku enggak akan ragu untuk rekomendasikan Kampus Bisnis Umar Usman ini ke orang-orang. Nilai-nilai yang mereka tawarkan itu bagus, pendampingan bisnis para peserta didik itu bukan sekadar orang pemilik gelar akademik, tapi memang seorang praktisi. Mereka yang ilmu bisnisnya tidak diragukan lagi, dengan begitu, sudah pasti networking yang tercipta enggak kaleng-kaleng. Kalau sudah lulus, sebagai alumni masih mendapatkan konsultasi bisnis sepuasnya dan incubator bisnis.

 

Biaya pendidikannya bisa cek langsung Kampus Bisnis Umar Usman.

 

 

“Kuliah 1 Tahun Jadi Pengusaha”


Sebagian alumni KBUU angkatan 1-9 (dok. pribadi)





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Persiapan Dana Pensiun Untuk Pekerja Lepas

Beberapa waktu lalu berkunjung ke rumah Pakdhe (sebutan untuk kakak laki-laki dari orang tua dalam bahasa Jawa), sedikit banyak bercerita, bertukar kabar, pandemi membuat segalanya terbatas, sapaan dalam jaringan tidak bisa menggantikan. Obrolan mengalir lancar, sedikit ejekan pun tak terlewat, Pakdhe yang satu ini sudah lanjut usia, namun jiwanya tetap muda, bisa mengikuti ritme kerabat yang seusiaku, nyaman untuk berbincang dengan beliau, mungkin salah satu faktornya adalah kehidupan masa tuanya yang tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Beliau aman secara finansial, dan lingkungan keluarga yang cukup harmonis.

Pendidikan Non Formal Sebagai Pendukung Pendidikan Formal

Foto sweetlouise dari pixabay Tahun 2022, bulan Februari, yang sekarang kelas 6 SD, 3 SMP, dan 3 SMA pasti lagi mumet cari-cari sekolah dan universitas, banyak banget pertimbangan, mulai dari minat sampai kesanggupan orang tua. Meski sekarang sistem zonasi berlaku, tetap saja ada banyak hal yang dipertimbangkan jika terkait pemilihan sekolah. Untuk yang universitas, sudah pasti mencari yang punya jurusan impian, akreditasinya bagus, lokasinya oke, biayanya terjangkau, dan lain-lainnya.

MiAccount, Satu Kendali di Ujung Jari

Sembilan Juni dua ribu dua puluh dua, jam 10:00 WIB aku ada di ruang temu Microsoft Teams bersama teman-teman blogger yan g kece, kita gathering MiAcc ount dan Halodoc. Hmmm. Enggak jauh dari dunia Kesehatan, kan, pastinya. Webinar kali ini temanya, “Manulife Hadirkan MiAccount dan Tingkatkan Layanan Kesehatan Nasabah dengan Halodoc”.