Jumat, 27 April 2018

Halodoc Aplikasi Kuratif dan Preventif

Enggak pernah bosan kalau bahas tentang kesehatan, terus perihal kasus-kasus yang biasa terjadi pada anak-anak. Bukan kasus yang aneh-aneh, tapi semacam ASI, ASIP, peran Ayah, dokter spesialis anak dan lain sebagainya.

Aku tiga bersaudara, Ibu dan Bapak membesarkan kami dengan cara yang hampir sama, dan penanganan yang selalu hampir tepat untuk anak-anaknya dalam hal kesehatan maupun hal lainnya. Tapi, setiap zamannya pasti berbeda, berubah sesuai dengan perkembangan teknologi. Dulu kalau sakit pakai obat tradiasional dahulu, baru ke dokter kalau sakit berlanjut. Sekarang, ada gejala-gejala yang timbul, langsung cek internet, dicocok-cocokin sakit apa, obatnya apa.

Paling sering terjadi adalah masalah pola asuh. Ibu selalu bilang ke kakakku yang sudah punya anak, kalau ngurus anak tuh begini-begitu, jangan begini-begitu, harus ini-itu. Lalu, yang terjadi adalah semacam perdebatan kecil tapi serius antara Ibu dan Kakak, karena Kakak merasa dia lebih tahu tentang anaknya, sedangkan Ibu lebih paham cara mengasuh anak. Kemudian, aku hanya mendengarkan mereka berdua.

Aku memang belum paham banget, karena sekadar mendengar dan membaca, belum pernah merasakan langsung. Jadi, kalau dapat info-info terkait parenting aku masih meraba-raba karena implementasinya masih nol, ya enggak nol banget karena terkadang aku pakai keponakan sebagai percobaan. Hahaha. 

Seperti pembahasan pola asuh gizi pada anak tanggal 13 April 2018 kemarin sama teman-teman blogger. Pembicaranya dr. Herlina, Sp.A., dan Blessy Desima Reta Manager Offline Marketing Halodoc. Jadi, ya, ternyata sekarang ini, di zaman teknologi canggih ini, enggak menutup kemungkinan bahwa masih banyak orang menerapkan pola asuh gizi yang salah ke anak-anaknya.

(Ki-ka): MC, dr. Herlina, Sp.A., Blessy Desima Reta (dokpri)

Aku, sih, ya, yakin banget kalau si Ibu enggak bermaksud jelek ke anaknya, dia mau yang terbaik untuk anaknya. Sehingga apapun yang dianggapnya baik, diberikanlah pada anak, padahal itu belum tentu baik, busa saja keliru atau bahkan salah kaprah. Masih ingat enggak ada seleb yang ngasih makan ke anak sebelum usianya enam bulan? Dia bilang enggak apa-apa, itu boleh, tapi sebenarnya itu enggak boleh ditiru tanpa keahlian khusus, hahaha. 

Sebelum enam bulan itu, kan, harusnya anak-anak cuma konsumsi ASI, MPASI itu diberikan setelah usia enam bulan. Untuk pemberian Makanan Pendamping ASI pun harus ada informasi yang jelas dari dokter spesialis anak. Sekarang banyak broadcast kesehatan, tapi aku sejujurnya masih sanksi, maunya langsung dapat info dari ahlinya. Soalnya broadcast itu juga banyak yang salah. Hadeeeuuuhhh.

Kemarin itu di acara #KataDokterHalodoc dr. Herlina kasih tahu lima kesalahan pola asuh gizi yang keliru pada anak dan pelakunya adalah orang tua si anak itu sendiri. Hmmm. 


5 Kesalahan Pola Asuh Gizi:
1. Memaksa Anak untuk Makan
Hal yang satu ini kayaknya jadi keluhan sebagian besar orang tua untuk anaknya yang usia di bawah 10 tahun, tapi ada, sih, yang memang malas makan walau sudah lewat dari 10 tahun. Ponakan aku sekarang 4 tahun, ya, gitu deh kalau makan, susah banget kecuali dia yang memang bilang mau makan, baru lah makanannya dihabiskan. Sering aku lihat orang tua yang memaksa anaknya untuk makan, padahal itu enggak boleh. Terus kalau enggak mau makan, dia diancam enggak boleh ini-itu, enggak dikasih ini-itu, dan sebagainya. Menurut dr. Herlina jam makan itu baiknya jangan berubah, biar anak paham kalau dia hanya makan di waktu yang sudah dijadwalkan.

2. MPASI Sebelum 6 Bulan
Ini jadinya termasuk pola asuh gizi yang salaaahhh. Anak bayi usia di bawah enam bulan itu makanannya ASI saja, seperti yang aku tulis di awal itu, tuh. Dr. Herlina juga menyampaikan kalau pencernaan bayi itu sistemnya belum sempurna, belum bisa dimasukkan benda asing, iya, selain ASI itu termasuk benda asing dong. Bukan menurut dokter saja, orang tua zaman dahulu pun memberi ASI saja, MPASI biasanya buah pisang dan itu setelah usia enam bulan. 

3. Makanan Tidak Sesuai Usia
Maksudnya itu semacam camilan untuk anak-anak. Banyak orang tua yang ngasih camilan ke anaknya sama seperti yang dia makan. Padahal kebutuhannya sudah jelas berbeda, balita camilannya cukup jus buah atau konsumsi buah langsung, itu pun dalam porsi yang sedikit. Kalau untuk memberikan jus, cukup setengah gelas dalam sehari dan jus buah asli, bukan yang ada di toko-toko itu. Anak-anak hanya butuh sedikit asupan gula, jadi kalau camilannya mengandung gula, ya, harus gula murni. Gula murni terkandung dalam sayur dan buah, berarti kasih camilan buah saja. Pemberian camilan jangan kapan saja, untuk menghindari anak tidak merasa lapar saat jam makan.

4. Pemakaian DOT Terlalu Lama
Masalah yang satu ini juga terjadi sama keponakan aku. Kalau dot botol, sih, pas minum susu saja, enggak sering dan kalau susu sudah habis, botol langsung dilempar menjauh. Bermasalah saat Kakak mulai mengenalkan dot yang biasa disebut kempeng, nah, awal-awal enak tuh kalau anaknya nangis tinggal kasih kempeng, kemudian masalah timbul saat usianya bertambah dan sulit melepas kempeng. Serius itu susah banget, dia nangis mulu, kan. Hahaha. Lalu, akhirnya kalau pergi-pergi kempengnya enggak dibawa, di rumah pun kempengnya diumpetin, karena kalau kelihatan anaknya, pasti kempengnya langsung diambil dan masuk mulut. Menurut dr. Herlina penggunaan dot itu harus dikurangi di usia enam bulan, kemudian mulai benar-benar dilepas beberapa bulan setelahnya.

5. Banyak Makanan Manis
Ini ada hubungannya dengan makanan yang tidak sesuai usia. Menurut WHO, kebutuhan gula harian anak-anak hanya 10% dari total energi yang dikonsumsi. Usia 1-3 tahun hanya boleh konsumsi gula sebanyak 4-5 sendok teh gula. Usia 4-6 tahun boleh lebih, sebanyak 5-8 sendok teh gula. Suka dibilang anak-anak jangan banyak makan permen, cokelat, dan sebagainya, itu benar karena makanan manis yang bukan gula alami akan membuat gigi rusak, obesitas, dan juga kehilangan nafsu makan. Jadi, kebutuhan gula anak-anak cukup didapat dari konsumsi buah dan sayur. 

Itu baru sebagian kecil tentang kesehatan di lingkup anak-anak. Kesehatan itu infonya banyak banget, seolah tak pernah usai, walau intinya adalah gaya hidup sehat. Untuk menjawab segala rasa haus masyarakat digital, aplikasi Halodoc hadir dengan berbagai kemudahannya. Kenapa mudah? Soalnya di aplikasi Halodoc ada fitur untuk kita konsultasi sama dokter, asik banget, kan itu. Bisa konsultasi kapan saja dan di mana saja. Dokternya ada dokter umum, dokter spesialis anak, internis, sampai dokter mata. Aku bilang bisa kapan saja dan di mana saja karena online 24 jam.

Kalau misal di rumah lagi ada yang sakit, terus enggak bisa ditinggal padahal harus beli obat. Pakai aplikasi Halodoc dengan fitur Pharmacy Delivery, yup, beli obat pakai aplikasi Halodoc dan tunggu saja diantar ke rumah. Layanannya juga 24 jam, bebas ongkos kirim. Butuh pengecekan kesehatan juga bisa, jadi aplikasi Halodoc kerja sama dengan Prodia, dan petugasnya bisa datang ke rumah atau kantor, jadi kita enggak harus mendatangi laboratoriumnya. Fitur yang satu ini baru bisa dimanfaatkan pengguna di sekitar Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.

Halodoc membuat #SehatLebihMudah karena kalau mau cari informasi harus yang jelas sumbernya, dan informasi itu bisa langsung didapat dari voice call, video call, atau chat dengan dokter melalui aplikasi.

Wejangan, ajaran, dan perkataan para sepuh itu enggak melulu mitos, banyak yang fakta hanya saja mereka enggak bisa menjelaskan alasannya, kalau sekarang ada alasannya. Jadi, apa yang disampaikan sesepuh jangan dibantah, tapi dicari tahu apakah benar atau salah, dan apa alasannya. Bukankah kemajuan teknologi ada untuk mempermudah? Jadi, diskusikan, bukan diperdebatkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hola, siapa pun anda, terima kasih sudah mampir. Semoga anda membacanya dengan seksama dan dalam tempo secukupnya.