Sabtu, 23 Desember 2017

Keistimewaan yang Sesungguhnya Lahan Gambut

Banyak hal yang selama ini aku baru dengar saja atau enggak terlalu peduli. Enggak terlalu peduli bukan berarti enggak mau tahu dan membiarkan saja apa yang terjadi. Tapi, lebih karena belum pernah berurusan atau enggak tahu lebih detail, jadinya semacam tidak acuh, walau aku tetap menganggap subjek atau objek itu ada.

Salah satu hal yang enggak terlalu aku pedulikan itu gambut atau lahan gambut. Aku tahunya dia ini tanah lunak yang di rawa-rawa gitu, deh, selebihnya aku enggak tahu apa-apa tentang gambut. Hihihi. Setelah cek KBBI, ternyata gambut itu tanah lunak dan basah yang terdiri dari lumut dan tanaman yang membusuk di daerah rawa-rawa. Tanpa banyak dari kita sadara bahwa gambut itu punya peran yang penting banget yang bahkan jasanya tak tergantikan dalam ekosistem dunia.

Untuk menjaga kelestarian lahan gambut, pemerintah berkomitmen merestorasi lahan gambut di 7 provinsi, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua. Total jumlah lahan gambut yang direstorasi kurang lebih 2,5 juta hektar. Sekadar informasi, kalau lahan gambut hanya ada 3% di seluruh permukaan bumi, lho. Sedikit banget, ya, dan di Indonesia total lahan gambut itu 18,9 juta hektar.

Restorasi di 7 provinsi tersebut karena 50% lahan gambut di sana telah dikeringkan. Nah, kalau lahan gambut dikeringkan maka akan mudah sekali terbakar jika kena percikan api. Gambut mengandung partikel organik yang banyak banget, itulah yang menyebabkan mudah terbakar dan apinya cepat membesar. Jangankan dibakar, lahan gambut yang dikeringkan saja akan meningkatkan gas emisi rumah kaca.

Gambut yang terbakar membuat kualitas udara berada pada level terendah dan akan mengakibatkan ISPA, sampai seperti itu bahayanya lahan gambut yang terbakar. Perlu diketahui bahwa lahan gambut menyimpan dua kali lipat jumlah karbon di hutan dunia, dan empat kali lipat jumlah karbon di atmosfer. Jadi ketika gambut terbakar, dia akan melepaskan karbon dan membuat perubahan iklim yang sangat cepat. Ingat, kan, tentang pembakaran lahan beberapa waktu lalu? Kenapa asapnya sampai membahayakan? Karena lahan gambut ikut terbakar, sehingga saudara-saudara kita terkena imbasnya.

Lahan gambut di Kalimantan Tengah dijadikan sebagai lahan pertanian oleh warga setempat, salah satunya Pak Asnawi. Pak Asnawi seorang petani di Kalimantan Tengah yang mengandalkan lahan gambut, dan untuk pembajakkannya beliau menggunakan traktor sumbangan dari Bupati setempat. Di Kalimantan Tengah lahan gambut menjadi sumber pangan, gambut menjadi tempat mereka bergantung.

Danar Tri Atmojo seorang VR photographer & photo journalist membuat VR360 lahan gambut di Kalimantan Tengah, tepatnya lahan pertanian Pak Asnawi dan menunjukkannya dalam acara Pantau Gambut dengan tema Make Peatland As Cool As You, 17 Desember 2017 lalu. Bukan dengan kamera 360 seperti yang sedang booming saat ini, Danar mengambil foto 360 dengan DSLR dan ambil foto satu-persatu dengan cara berputar lalu dirangkai dan terlihat 360 derajat. Walau enggak menggunakan kamera 360, hasilnya tetap bagus dan jelas.

Danar Tri Atmojo

Tampilan potongan foto VR360 di monitor

Gaes, tanpa banyak kita tahu, terutama aku, nih, yang beneran baru banyak tahu tentang gambut di acara ini. Lahan gambut sebenarnya bukan sekadar tanah basah, lahan gambut itu merupakan lahan penghasil makanan bernutrisi tinggi, lho. Salah satu tanaman yang tumbuh di lahan gambut itu pohon sagu. Kalau ngomongin sagu, aku langsung ingat Papua yang punya Papeda berbahan dasar sagu. Cocok, nih, lahan gambut terbesar itu ada di Papua dan penghasil sagu terbesar itu juga Papua.

Amelia Yena Febryanty yang punya Papoea Kemang, dia buka semacam rumah makan Papua di daerah Kemang, terinspirasi dari pengalamannya tinggal cukup lama di sana. Kak Amelia cerita banyak tentang sagu di Papua, jadi tahu kalau ternyata dari satu pohon sagu dapat menghasilkan 150 hingga 300 kilogram sagu, itu banyak atau banyak banget, ya? Hihihi.

Amelia Yena Febryanty

Pohon sagu itu tinggi banget, aku belum pernah lihat langsung, sih, katanya mencapai 20 meter hingga 30 meter. Hmmm, sama kayak pohon kelapa, ya. Pohon sagu itu bisa dipanen setiap 6-7 tahun sekali, lama, tapi sekali panen ya melimpah banget. Satu lagi, sagu dari Papua dan sagu yang banyak di pasaran pulau Jawa ini katanya beda, lebih enak yang langsung dari Papua. Ya, tapi, kan, harganya bisa berkali lipat mungkin.

Pohon sagu enggak cuma menghasilkan makanan lho ternyata, tapi juga bisa menghasilkan serat yang bisa dipintal menjadi benang, uniknya mereka memintal tanpa mesin, yup, pakai tangan karena menolak modernisasi. Hasilnya, bagus banget, dan kuat. Seperti tas yang disangkutkan di kepala, itu mereka buat sendiri dari serat yang dihasilkan pohon sagu, harganya jangan ditanya, sampai Jakarta sudah jutaan.

Tas dari serat pohon sagu yang bisa difungsikan sebagai aksesoris berpakaian

Papoea Kemang membawa Chef Muhammad Manoppo Healthy Food Chef Papoea Kemang. Chef Manoppo masak langsung menu berbahan dasar sagu, ada beberapa jenis olahan sagu yang dihidangkan, ada sagu bakar, sagu goreng semacam pempek dan diisi ikan cakalang, sagu kukus, kue sagu yang keras yang makannya harus dicelupkan ke teh panas, dan pastinya itu papeda. Sagu gorengnya, sih, rasanya enggak jauh beda sama pempek. Kalau yang bakar itu enak aromanya, rasanya mirip wingko babat, tapi teksturnya padat. Sagu kukusnya enak, aku sebenarnya enggak yakin itu dikukus atau gimana, lupa nanya. Hixhix.

Chef Muhammad Manoppo sedang membuat papeda

1) Papeda, 2) Sagu bakar, 3) Sagu goreng isi ikan cakalang, 4) Sagu kukus, dan 5) Dimakan dengan kuah.

Dibalik menjulangnya pohon sagu, selain menghasilkan berbagai jenis makanan enak berbahan dasar sagu, juga punya manfaat-manfaat herbal juga sebagai bio-ethanol. Kak Amelia menyampaikan beberapa manfaat sagu untuk tubuh kita seperti berikut.

Sagu bisa dijadikan herbal:
  1. Sakit maag dan nyeri pada perut – Sagu, garam, air hangat, dan gula aren.
  2. Menyembuhkan biang keringat – Sagu dan air dingin.
  3. Menyembuhkan sembeli pada anak-anak – Sagu dan susu.
  4. Memutihkan wajah secara aman dan alamiah – Sagu, jeruk nipis, dan yoghurt.
  5. Mencegah kerutan dini – Sagu, oatmeal, madu asli, dan air hangat.
  6. Mencegah dan menyembuhkan jerawat – Sagu dan putih telur.
  7. Mengobati iritasi dan luka ringan pada kulit – Sagu dan air hangat.
  8. Mengurangi minyak berlebih pada rambut – Sagu dan baking soda.
  9. Menormalkan kondisi rambut yang rusak karena hairspraySagu dan jeruk nipis.
  10. Menjadi pendingin untk kulit yang sedang meradang – Sagu dan susu dingin.

Sagu bisa menjadi bio-ethanol, manfaat bio-ethanol:
  1. Mengurangi kebutuhan BBM khususnya premium.
  2. Mengurangi efek rumah kaca.
  3. Bebas zat berbahaya seperti Co, Nox, UHC.
  4. Diversifikasi energi.
  5. Menciptakan teknologi berwawasan lingkungan.
  6. Diversifikasi industri yang berujung pada penciptaan lapangan pekerjaan.

Yups, itu tadi manfaat sagu sebagai herbal dan bio-ethanol, keren, ya, sagu bisa sekeren itu, aku benar-benar baru tahu. Huhuhu. Sagu, maafkan aku yang tidak terlalu mengindahkanmu, kecuali setelah jadi makanan. Hahaha.

Setelah tahu bahwa semua manfaat itu bersumber dari lahan gambut, kita harus tetap menjaga kelestarian lahan gambut. Gambut kelihatannya enggak produktif, padahal kalau dirawat lahan gambut itu sangat potensial. Ada banyak cara untuk kita menjaga lahan gambut, diantaranya kita bantu kampanye stop perizinan pembangunan di atas lahan gambut. Bisa juga dengan penyuluhan ke sekolah-sekolah, yang bertujuan memberikan pemahaman ke generasi muda bahwa peran gambut itu penting banget. Sehingga mereka mau ikut menjaga lahan gambut dari kerusakan yang disebabkan oleh tangan manusia.


Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hola, siapa pun anda, terima kasih sudah mampir. Semoga anda membacanya dengan seksama dan dalam tempo secukupnya.